Rabu, 10 Juni 2009


Hikmah Diciptakannya Setan

Fiqih Quran & Hadist Oleh : Redaksi 05 Oct, 04 - 11:41 amAkhir-akhir ini kisah-kisah misteri/mistik marak sekali ditayangkan di televisi kita. Hampir setiap malam pemirsa disuguhi kisah dan cerita misteri/mistik dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda. Seolah-olah 'kisah dunia lain itu lebih penting dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari dengan susah payah karena keterpurukan bangsa ini di segala bidang kehidupan.Penayangan kisah-kisah misteri dan mistik ini sudah sangat berlebihan, sangat mengganggu dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Saking keterlaluannya sampai mengundang keprihatinan para ulama dan para tokoh nasional. Mereka telah menghimbau dan melayangkan surat supaya insan pertelevisian kita menghentikan tayangan-tayangan tersebut, tetapi tampaknya tidak digubris. Buktinya penayangan kisah-kisah misteri itu malah makin menjadi-jadi.Jika dikaitkan dengan peran setan, agaknya ini adalah salah satu daya upaya setan untuk merusak akidah umat manusia, agar manusia lebih takut kepada setan daripada kepada Allah, dan agar manusia mengabdi kepada setan demi kejayaan setan.
Apa Itu Setan?
Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia (QS. 114: 1-6/QS. 6:112). Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan (QS. 2 : 36/4 : 118).Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan (perangkapnya, Dihiasinya Kesenangan duniawi itu dihiasinya sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/ kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga disebut setan (QS. 38 : 37-38) dan golongan (partai) mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan - QS. 58 : 19).Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia. mereka bahu rnembahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. (QS, 7:17).
Mudharat Tayangan Setan
Dalam Islam sangat jelas bahwa penayangan seperti itu diharamkan, karena: Pertama, tayangan mistik seperti itu mempersubur kemusyrikan, membuat manusia lebih takut kepada setan, khurafat dan tahyul daripada takut kepada Allah. Padahal tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat di dunia ini kecuali hanya Allah (QS. 39 : 38), tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah. Kedua, tayangan mistik seperti itu adalah bentuk pembodohan masyarakat, hanya membuat bangsa semakin jumud dan terbelakang. Ketiga, tayangan seperti itu sarat dengan praktek perdukunan. Dengan maraknya penayangan kisah-kisah mistik, maka praktek-praktek perdukunan juga semakin marak. Sedangkan perdukunan juga diharamkan dalam Islam. Dan keempat, rezeki yang dihasilkan dari usaha yang diharamkan, maka rezeki itu juga haram dan tidak diberkahi Allah. Oleh karenanya penayangan kemusyrikan itu mestilah dihilangkan karena tidak ada manfaatnya selain mudharat dunia-akhirat. Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191). Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan Itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/ kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat musuh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.Demikian pula setan. la selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara.Nah, jika kita telah mcngetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.


Lebih rinci, di antara hikmah dicipta-kannya setan ialah :
1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah.
Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji (QS. 29:2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, derajatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS. 41 : 30-31).
2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah,
Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS. 51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, rnembisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan rnampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada gilirannya ia akan menjadi hamba setan.
3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah
Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.
4. Allah hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya.
Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah (QS. 3 : 195).
5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah.
Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka. Apakah ini tidak terpikirkan oleh insan pertelevisian kita?
Jejak-Jejak Iblis
"Maka setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya, dan setan berkata: 'Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)'. Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.' Dia membujuk keduanya dengan tipu daya...." (Al-A'raf: 20 -- 22). Adam dan Hawa tinggal di surga. Iblis iri dibuatnya. Ia menyimpan dendam kesumat terhadap keduanya. Iblis pun berjanji akan mendongkel mereka dari surga. Tidak hanya itu, Iblis juga berjanji menggelincirkan anak cucu Adam sampai kiamat. Demi ambisinya, Iblis bahkan meminta dispensasi kepada Allah untuk bisa hidup sampai akhir zaman. Ia pun mencari celah untuk menggoda Adam dan Hawa. Celah itu akhirnya ia temukan. Iblis membujuk keduanya agar mendekati pohon larangan. Pohon yang Allah melarang keduanya untuk mendekati dan memakan buahnya. Keduanya tertipu, mereka mendekati dan memakan buahnya. Iblis tertawa terbahak. Akhirnya, mereka semua dikeluarkan dari surga. Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya.... Setan tahu jika keduanya mendekati pohon larangan, aurat mereka akan tampak, karena mendekatinya adalah larangan dan melanggar larangan adalah maksiyat kepada Allah. Fawaswasa lahuma… (Iblis kemudian membisiki keduanya). Waswasah adalah bisikan hati dan suara yang pelan. Artinya, iblis melakukannya secara halus, melalui bisikan hati, dan kadang tidak terdeteksi. Setan berkata, "Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal di surga." Pintu tipu daya terbesar adalah ketika Iblis berhasil mengidentifikasi keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Demikian dikatakan oleh Ibnu Qoyyim. Keinginan…, itulah yang banyak menjadi pintu tipu daya setan. Seperti maklum, setan menggoda Anak Adam melalui aliran darah. Ia mencapai nafsu manusia dengan merasuk dan menanyainya, termasuk menanyai apa yang disukai dan apa yang tak disukai; apa yang diingini dan apa yang tak diingini. Anak Adam banyak terperdaya melalui pintu ini. Setelah iblis berhasil mengendus keinginan moyang kita, ia menerapkan politik berikutnya. Apa itu? ia berkedok menjadi penasihat bagi keduanya. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan Adam dan Hawa, ia harus bersumpah dengan nama Allah. Untaian kalimatnya pun dibuat simpatik, Waqaasamahumaa innii lakumaa la-minan-naasihiin (Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua....'). Sebuah ungkapan yang membuai, Ada penegasan dengan sumpah (waqaasamahumaa) , ada penegasan dengan kata sesungguhnya (inni), unsur objek dikedepankan dari subjek (lakumaa sebelum naasihin) yang mengandung makna pengkhususan, sehingga ayat tersebut bisa bermakna, "Nasihatku kuberikan khusus untuk kalian berdua, dan manfaatnya kembali kepada kalian berdua, bukan kepadaku." Pekerjaan menasihati juga diungkapkan dengan isim fa'il yang menunjukkan sifat, dan bukan fi'il yang menunjukkan kejadian yang baru terjadi, sehingga ia dapat dimaknai: memberikan nasihat adalah sifat, watak, dan profesiku, bukan hal yang bersifat insiden. Iblis juga menggambarkan dirinya sebagai salah satu dari banyak penasihat (laminan-naasihin), dengan begitu seolah dia berkata, "Banyak orang menasihatimu dalam hal ini, sedangkan aku hanya salah seorang dari mereka." Ini serupa dengan ungkapan, "Semua orang sependapat denganku dalam masalah ini, dan aku hanyalah salah seorang yang menyuruhmu berbuat begitu." Singkatnya, iblis menggunakan politik meyakinkan, membesarkan hati, dan memberikan solusi untuk sebuah tindakan membohongi, menipu, dan memperdaya. Untuk meyakinkan, ia tampil sebagai pemberi nasihat atau konsultan profesional, yang pendapatnya diklaim mewakili pendapat kebanyakan. Bahkan, untuk menipu Adam dan Hawa, Iblis perlu menjuluki pohon larangan dengan pohon kekekalan, seperti dalam firman Allah, "Setan berkata: 'Wahai Adam, maukah kutunjukkan kepadamu pohon kekekalan (syajaratul khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa'?" (Thaha: 120). Politik Iblis banyak ditiru pengikut-pengikutnya. Termasuk pengikutnya dari golongan manusia. Ada politik "penghalusan" semacam di atas. Kemungkaran banyak dijuluki dengan nama cantik. Judi dinamakan adu ketangkasan. Dahulu, judi bahkan dinamakan sumbangan dana sosial; pelacur dijuluki wanita idaman; riba disebut bunga; pengingkaran terhadap ayat dinamakan kontekstualisasi; penyelewengan Alquran diklaim membumikan Alquran; pembantaian penduduk sipil disebut penegakan demokrasi. Memerangi Islam disebut memerangi teroris, dan seterusnya. Mendompleng keinginan orang juga lazim digunakan para pengikut setan. Jika mereka bermaksud mempengaruhi orang, agar maksud jahatnya terwujud, mereka memulai menyinggung keinginan, kemauan, dan kebutuhan orang yang dipengaruhi, seperti keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Kadang "singgungan" itu berupa rangsangan untuk menuju keinginan, kadang keinginan itu sendiri yang dipenuhi sebagai semacam "suapan". Betapa banyak misionaris yang membujuk umat Islam dengan kedok bantuan-bantuan kemanusiaan, terutama saat mereka tertimpa musibah atau terdesak kebutuhan. Juga betapa sering bangsa Barat memperalat pemerintahan negeri-negeri Islam untuk memerangi orang Islam dengan iming-iming yang menggiurkan atau yang lazim disebut dengan politik stick and carrot. Sebagaimana Iblis berkedok menjadi penasihat profesional, para pengikutnya di era modern juga demikian. Penasihat yang memberikan arahan dan solusi. Jika iblis melegalisasi profesionalismenya dengan sumpah atas nama Allah, dan dengan penguatan-penguatan lain, para penasihat modern tampil dengan performa yang meyakinkah, kredibel, bonafid, dan sejenisnya karena sebelumnya memang telah diopinikan demikian. Maka, ketika sebuah negara sakit, mereka tampil menjadi dokter. Orang sakit tentu susah dan kurang etis jika membantah sang dokter, tak peduli diagnosanya keliru, juga tak peduli obat yang diberikan racun sekalipun. Betapa banyak negeri yang sami'na waata'na didikte oleh lembaga semacam IMF dengan dalih penyelamatan, meskipun sesungguhnya penjerumusan. Jika setan suka mengatasnamakan orang banyak (sesungguhnya aku salah satu pemberi nasihat), setan modern demikian juga. Untuk menjustifikasi kemauannya, ia perlu menyatakan bahwa ia didukung oleh banyak pihak. Meski kadang dukungan tersebut lebih bersifat klaim, misalanya penganugerahan nobel perdamaian dan sejenisnya. Bukankah pada era modern opini media massa yang membentuk fakta dan bukan fakta yang membentuk opini? Contoh menarik dewasa ini adalah daftar kelompok teroris versi PBB yang diklaim atas masukan banyak negara, seolah daftar tersebut mewakili aspirasi mayoritas penduduk dunia. Akhirnya, marilah kita berlindung kepada Allah dari tipu daya setan, seperti diajarkan Allah dalam Alquran, "Katakanlah: 'Aku berlindung dari Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahaan bisikan setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia'." (An-Naas: 1 - 6). (Abu Zahrah).



Al-Walahan : Setan Spesialis Wudhu
Bisa kita bayangkan, bagaimana canggihnya seorang pencuri kendaraan bermotor jika setiap hari yang dipelajari dan dikerjakan adalah mencuri motor. Ada juga pencuri spesialis elektronik, dia paling ahli soal bagaimana menggondol barang elektronik di rumah orang yang sedang lengah. Ternyata, iblis juga memiliki bala tentara yang dibekali ketrampilan khusus dan ditugasi pekerjaan yang khusus pula. Iblis menggoda manusia di setiap lini, dan di setiap lini dia siapkan setan-setan ‘spesialis’ yang pakar dalam bidangnya.Dalam hal wudhu misalnya, ada jenis setan khusus yang beraksi di wilayah ini. Pekerjaannya fokus untuk menggoda orang-orang yang wudhu sehingga menjadi kacau wudhunya. Setan spesialis wudhu ini disebut Nabi dengan ‘Al-Walahan’. Nabi bersabda:"Pada wudhu itu ada setan yang menggoda, disebut dengan Al-Walahan, maka hati-hatilah terhadapnya." (HR Ahmad) Setan ini menggoda tidak hanya mengandalkan satu jurus saja untuk memperdayai mangsanya. Untuk masing-masing karakter pelaku wudhu, disiapkan satu jurus untuk melumpuhkannya. Sebagian dipermainkan setan hingga sibuk mengulang-ulang lafazh niat. Saking sibuknya mengulang, ada yang rela ketinggalan rekaat untuk meng’eja’ niat. Niat memang harus dilazimi bagi setiap hamba yang hendak melakukan suatu kativitas. Akan tetapi, tak ada secuil keteranganpun dari Nabi yang shahih menunjukkan sunahnya melafazkan niat. Bahkan tidak ada dalil sekalipun berupa hadits dha’if, mursal, atau yang terdapat di musnad maupun perbuatan sahabat yang menunjukkan keharusan atau sunahnya melafazkan niat.Dalil yang biasa dipakai adalah hadits Nabi "segala sesuatu tergantung niatnya." Hadits ini tidak menunjukkan sedikitpun akan perintah melafazkan niat. Jika hadits ini dimaknai sebagai niat yang dilafazkan, berarti untuk setiap amal shalih baik menolong orang tenggelam, belajar, bekerja dan aktivitas lain menuntut dilafazkan niat. Apakah orang yang melafazkan niat ketika wudhu juga melafazkan niat ketika melakukan aktivitas amal yang lain? Kalau saja itu baik, tentunya Nabi dan para sahabat melakukannya.Sebagian lagi digoda setan sehingga asal-asalan ketika melakukan wudhu. Dia membiarkan anggota tubuh yang mestinya wajib dibasuh, tidak terkena oleh air. Nabi mengingatkan akan hal ini dengan sabdanya:"Celakalah tumit dari neraka." (HR Al-Bukhari dan Muslim)Untuk menangkal godaan ini, wajib bagi kita mengetahui, manakah anggota tubuh yang wajib dibasuh atau diusap. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki ..." (QS. al-Maidah : 6)Syaikh Utsaimin menyebutkan bahwa ‘istinsyaq’ atau memasukkan air ke hidung kemudian istinsyar (mengeluarkannya) hukumnya wajib karena hidung termasuk bagian dari wajah yang dituntut untuk dibasuh.Telinga juga wajib untuk diusap karena termasuk bagian dari kepala sebagaimana hadits Nabi: al-udzun minar ra’si, telinga adalah bagian dari kepala.
Asal-asalan berwudhu adalah jurus setan yang diarahkan bagi orang yang malas. Sedangkan untuk orang yang antusias dan bersemangat, ‘al-walahan’ memiliki jurus yang lain. Yakni dia menggoda agar orang yang wudhu terlampau boros menggunakan air. Timbullah asumsi bagi orang yang berwudhu, semakin banyak air, maka semakin sempurna pula wudhunya. Padahal anggapan ini bertentangan dengan sunnatul huda. Bahkan Nabi mengingatkan umatnya akan hal itu. Beliau bersabda:"Sesungguhnya akan ada di antara umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa." (HR Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa’i, sanadnya kuat dan dishahihkan oleh Al-Albani).Ada pula hadits menyebutkan, tatkala Nabi melewati Sa’ad yang tengah berwudhu beliau bersabda: "Janganlah boros dalam menggunakan air." Sa’ad berkata: "Apakah ada istilah pemborosan dalam hal air?" beliau menjawab: "Ya, meskipun engkau (berwudhu) di sungai yang mengalir." (HR Ibnu Majah dan Ahmad). Ibnul Qayyim menyebutkan hadits ini dalam Zaadul Ma’ad, begitu pula Ibnul Jauzi dalam kitabnya "Talbis Iblis", hanya saja Syaikh Al-Albani menyatakan ini sebagai hadits dha’if, begitu pula dengan Al-Bushiri dalam Al-Zawa’id.Yang baik adalah kita tidak boros dalam menggunakan air, termasuk ketika berwudhu. Namun bukan berarti boleh meninggalkan sebagian anggota yang wajib untuk dibasuh.
Ragu-Ragu Ketika Berwudhu
Jurus lain yang ditujukan bagi orang yang kelewat semangat dalam hal wudhu adalah, setan menanamkan keraguan kepada orang yang berwudhu. Ketika orang itu selesai wudhu, dibisikkan di hatinya keraguan akan keabsahan wudhunya. Agar orang itu mengulangi wudhunya kembali dan hilanglah banyak keutamaan seperti takbiratul uula maupun shalat jama’ah secara umum.Telah datang kepada Ibnu Uqail seseorang yang terkena jurus setan ini. Dia menceritakan bahwa dirinya telah berwudhu, kemudian dia ulangi wudhunya karena ragu, bahkan dia menceburkan diri ke sungai, setelah keluar darinya diapun masih ragu akan wudhunya. Dia bertanya: "Dalam keadaan (masih ragu) seperti itu apakah saya boleh shalat?" Ibnu Uqail menjawab: "Bahkan kamu tidak lagi wajib shalat." Ya, tak ada orang yang melakukan seperti itu kecuali orang yang hilang ingatan, sedangkan orang yang hilang ingatan tidak terkena kewajiban. Wallahu a’lam. (Majalah Ar risalah)
Khanzab, setan spesialis shalat
Shalat adalah ibadah paling menentukan posisi seorang hamba di akhirat kelak. Jika shalatnya baik, maka baiklah nilai amal yang lain, begitu pula sebaliknya. Wajar jika iblis menugaskan tentara khususnya untuk menggarap proyek ini. Ada setan spesialis yang mengganggu orang shalat, menempuh segala cara agar shalat seorang hamba kosong dari nilai atau minimal rendah kualitasnya. Setan itu bernama ‘Khanzab’.Utsman pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku.” Beliau bersabda:“Itulah setan yang disebut dengan ‘Khanzab’, jika engkau merasakan kehadirannya maka bacalah ta’awudz kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali.” (HR Ahmad) Utsman melanjutkan: “Akupun melaksanakan wejangan Nabi tersebut dan Allah mengusir gangguan tersebut dariku.
Melafazhkan Niat
Sebagaimana halnya dengan wudhu, serangan pertama yang dilakukan setan kepada orang yang shalat adalah menyibukkan ia untuk melafazhkan niat. Terkadang diiringi dengan gerakan aneh, dia membaca niat lalu mengangkat tangannya, lalu gagal dan idturunkan kembali tangannya. Dia ulangi lagi seperti itu berkali-kali hingga terkadang imam sudah rukuk atau sujud, sementara ia masih dipermainkan setan dalam niat dan takbirnya.Niat dan usaha menghadirkan hati memang dituntut ketika hendak shalat, namun tak ada tuntunan sedikitpun bagi orang yang hendak shalat untuk melafazhkan niatnya.Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam Zaadul Ma’ad berkata:Nabi memulai shalatnya dengan bacaan ‘Allahu Akbar’, dari Nabi beliau tidak membaca apapun sebelumnya dan tidak melafazhkan niatnya sama sekali. Beliau tidak mengatakan: ushalli.., ‘aku niat shalat anu karena Allah menghadap kiblat empat rekaat sebagai imam (sebagai makmum)..” Tidak pula beliau mengatakan ‘ada’an’ atau ‘qadha’an’, atau ‘fardhan’ dan sebagainya. Semua itu adalah bid’ah yang tidak disebutkan sedikitpun dalam hadits yang shahih, atau dha’if, tidak pula terdapat dalam musnad atau mursal, walau hanya satu kalimat saja. Bahkan tak satupun sahabat mengerjakannya, tidak ada tabi’in yang menganggapnya baik, begitupun dengan empat imam madzhab. Orang-orang belakangan yang membacanya keliru memahami perkataan Imam Syafi’i yang berbunyi 'shalat itu tidak sebagaimana shaum, tidak ada orang yang memulai shalat kecuali dengan dzikir’. Mereka menyangka bahwa maksud beliau adalah melafazhkan niat, padahal yang dimaksud tidak lain hanyalah takbiratul ihram.”Ingat Ini..Ingat Itu
Serangan kedua, setan akan mendatangi orang yang tengah mengerjakan shalat untuk mengingatkan urusan di luar shalat. Maka berapa banyak orang yang jasadnya mengerjakan shalat namun hatinya sibuk menghitung laba rugi perniagaan, mengingat barang yang telah hilang, atau bahkan urusan ‘kebaikan’ yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Tidak heran jika usai shalat seseorang menjadi ingat letak barang yang mana ia telah lupa sebelumnya. Setan rela ‘membantu’ orang itu untuk mengingatkan dan menemukan barangnya kembali, asalkan shalat yang dikerjakan menjadi rusak dan tidak bermutu. Pernah di zaman salaf seseorang kehilangan barang, seseorang menyarankan agar ia mengerjakan shalat dan diapun segera melaksanakan shalat. Ajaib, usai shalat tiba-tiba dia beranjak dari tempatnya dan mengambil barang yang telah dia ingat letaknya ketika shalat. Diapun ditanya: “Apa yang Anda dapatkan ketika shalat?” Dia menjawab: “Aku mendapatkan bahwa setan mencuri perhatian saya dari shalat.” Ada yang terlalu asyik dengan khayalan dan pikirannya tentang urusan di luar shalat, hingga dia lupa sudah berapa rekaat yang telah dia kerjakan. Tentang godaan setan ini, Nabi SAW. bersabda:“Jika adzan untuk shalat dikumandangkan, setan akan lari terbirit-birit sambil mengeluarkan bunyi kentutnya sehingga tidak mendengar adzan. Jika adzan telah usai diapun akan kembali menggoda. Ketika iqamah dikumandangkan setanpun akan lari hingga usai iqamah setan akan mendatangi orang yang shalat lalu membisikkan ke hati seseorang sembari berkata: ‘Ingat ini..ingat itu..’ setan mengingatkan apa-apa yang telah dia lupakan hingga seseorang tidak mengetahui berapa rekaat yang telah ia kerjakan.” (HR al-Bukhari)
Ragu antara Kentut dan Tidak
Ada kalanya muncul dalam benak seseorang keraguan, apakah dia kentut ataukah tidak. Ini adalah keraguan yang dihembuskan oleh setan untuk mengacaukan shalat seseorang. Dia tidak lagi konsentrasi dengan shalatnya karena ragu, atau dia akan membatalkan shalatnya, lalu dia berwudhu dan memulai shalatnya lagi, lalu akan digoda lagi dengan cara yang sama. Sehingga untuk satu shalat dia bisa mengulangi tiga sampai empat kali berwudhu. Bisa dibayangkan, seandainya ada lima orang saja dalam satu masjid yang terkena godaan ini, niscaya cukup membuat kacau jama’ah yang lain.Untuk menangkal godaan tersebut Nabi memberikan solusi dan informasi:“Jika salah seorang di antara kalian mendapatkan yang demikian itu maka janganlah membatalkan shalatnya hingga dia mendengar suaranya dan mencium baunya tanpa ragu. (HR Ahmad)Di antara ulama ada yang menyebutkan bahwa hadits ini merupakan salah satu pengecualian dari hadits da’ ma yariibuka ilaa ma laa yariibuka, tinggalkan apa yang meragukan dan ambil sesuatu yang tidak meragukan. Dalam kasus ini kita dilarang membatalkan shalat kendati berada dalam keraguan antara kentut dan tidak, kecuali jika mencium bau kentut atau mendengar suaranya.
Mencuri Perhatian
Kita juga sering melihat atau bahkan mengalami sendiri menengok ketika shalat terkadang tanpa terasa karena terbiasa. Ini juga tak lepas dari serangan setan yang ingin merusak shalat kita. Nabi ditanya tentang orang yang menoleh ke kanan dan ke kiri, beliau menjawab:“Itu adalah setan yang mencuri perhatian seorang hamba dari shalatnya.” (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud)Untuk menangkal serangan ini, hendaknya orang yang shalat berusaha menghadirkan hatinya, bahwa dia tengah berhadapan dengan Allah Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Jika Anda malu atau takut menoleh ke kanan dan ke kiri ketika berbicara kepada pejabat, lantas bagaimana halnya jika Anda sedang berkomunikasi dengan sang pencipta dan Penguasa para pejabat itu? (Ar risalah)
Al - Masuth, Setan Penyebar Gosip
Memang enak mengumbar lisan, tapi jangan tanyakan akibatnya. Hanya sepatah kata, tanpa disadari bisa menjadi sebab bagi seseorang untuk masuk ke jurang neraka yang amat dalam. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya, ada seseorang yang berkata sepatah kata saja di mana dia menganggap tak ada dampaknya namun itu (menjadi sebab) dia terlempar ke dalam neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. at-Tirmidzi)Kebanyakan orang yang masuk neraka juga karena lisannya, seperti sabda Nabi SAW:“Adakah yang menenggelamkan hidung (wajah) manusia ke dalam neraka selain dari hasil perbuatan lisan mereka?” (HR. Ahmad)Sabda Nabi SAW tersebut menunjukkan bahwa lisan adalah penyebab yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, meskipun dia seorang muslim. Namun, siksa yang menimpa muslim pasti ada akhirnya.Para sahabat yang memahami betapa dahsyatnya bahaya lisan, sangat berhati-hati menjaga lisannya. Ibnu Mas’ud ra. berkata: “Tiada yang lebih layak untuk banyak dipenjarakan selain dari lisan saya.”Iblis juga memahami hal ini. Menjerumuskan manusia ke dalam dosa lisan menjadi wilayah garap utamanya. Maka diangkatlah seorang anaknya menjadi pasukan khusus penyebar gosip. Qatadah menyebutkan, Iblis memiliki anak bernama al-Masuth yang bertugas khusus untuk membuat gosip, menyebarkan kabar burung yang tak jelas asalnya dan belum tentu kebenarannya, sekaligus menyebarkan kedustaan. Al-Masuth memperalat orang-orang yang hobi menyebar gosip menjadi perpanjangan lidahnya.
Gosip berpotensi besar merusak kehormatan muslim, merapuhkan ukhuwah Islamiyah dan bahkan memicu terjadinya peperangan antara kaum muslimin. Seperti terjadi pada persitiwa ‘haditsul ifki’, berita dusta, di mana banyak rumor berkembang bahwa ummul mukminin Aisyah telah berbuat tidak senonoh dengan sahabat Shafwan. Akan tetapi Allah membersihkan nama beliau ra, sekaligus mengancam pelakunya dengan firman-Nya:“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. an-Nuur: 19)Orang-orang yang menyebarkan gosip tidak berada pada satu level dosa, tetapi tergantung besar kecil andilnya dalam menyebarkan gosip. Allah berfirman tentang orang-orang yang ikut andil dalam haditsul ifki:“Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. an-Nuur: 11)
Cara Kerja Setan Penyebar Dusta
Untuk menyebarkan berita bohong, setan memiliki cara yang halus dan licik. Dia tidak membisikkan ke hati manusia yang menjadi perpanjangan lidahnya untuk menyebarkan berita yang seluruhnya dusta. Tetapi dia menyelipkan berita yang benar di tengah tumpukan segudang kedustaan. Sehingga ada alasan untuk membela diri bahwa yang dikatakannya tidak semuanya salah, tapi ada juga yang benar.Alasan lain, pihak yang digosip tidak marah, bahkan merasa senang. Seperti terjadi hari ini, banyak artis malah bangga menjadi obyek gosip, meski isinya miring. Kadang-kadang justru membuat sensasi agar digosipkan demi mendongkrak kete-narannya. Seperti pepatah Arab ‘bul zam-zam fa tu’raf’, kencingilah zam-zam niscaya engkau akan terkenal. Alasan ini tidak merubah status larangan menggosip orang, menceritakan semua kabar yang didengar. Nabi SAW memvonis orang yang gemar menceritakan setiap kabar yang didengarnya dengan predikat ‘pendusta.’ Beliau SAW bersabda:“Cukuplah seseorang dikatakan dusta jika dia menceritakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim)Mengapa orang yang menceritakan semua yang didengarnya divonis sebagai pendusta? Karena tidak setiap kabar yang sampai kepadanya itu fakta yang benar-benar terjadi. Besar kemungkinan bahkan pasti ada diantaranya yang ternyata dusta. Jika dia menceritakan semua yang didengarnya, berarti ada juga berita dusta yang dia ceritakan kepada orang lain, maka jadilah dia pendusta.Di sisi lain, ada informasi yang meski benar namun tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Seperti berita tentang aib maupun rahasia orang lain. Inilah yang disebut dengan ghibah. Nabi SAW bersabda: “Tahukah kalian, apakah ghibah itu? Ghibah adalah ketika engkau menceritakan tentang saudaramu apa yang tidak dia sukai?” Para sahabat bertanya: “Bagaimana menurut Anda jika apa yang kami katakan memang ada pada saudaraku itu?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan benar, maka berarti engkau telah menghibahnya, dan jika yang kamu katakan tidak ada padanya maka berarti engkau telah berdusta tentangnya.” (HR. Muslim)Kegiatan ‘memakan bangkai’ saudaranya dan mengumbar gosip, menyebarkan kabar burung dan rumor dianggap sebagai menu yang renyah oleh kebanyakan orang. Ada yang bertujuan untuk menjatuhkan kehormatan, sekedar mengisi waktu atau untuk menghibur diri:“Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah adalah besar.” (QS an-Nuur: 15) Indonesia adalah tempat yang subur untuk perdukunan. Negara ini seolah terbelenggu dengan perdukunan. Jual tanah saja harus pergi ke dukun, mau usahanya lancar, mau jabatannya bertahan, mau punya wibawa dan ditakuti bawahan harus pergi ke dukun. Walaupun mungkin sebutan dukun sekarang kalah populer dengan paranormal atau pensehat spiritual, ditambah lagi oleh mitos-mitos yang berkembang di nusantara ini, seperti orang hamil harus membawa gunting, angka 13 adalah angka sial, diperparah lagi oleh tayangan mistik dan klenik yang berkembang pesat di dunia pertelevisian kita, dan ironinya mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Dari data yang ada, sekitar 149 tayangan misteri di TV kita. Di kantor terkumpul jimat dari harga yang terendah Rp 100 dan termahal Rp 1 milyar.
Prinsip-prinsip Islam Mengenai Jin dan Setan
1. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber kita dalam mengenal masalah ghaib. Setiap informasi tentang yang ghaib selain dari keduanya harus kita tolak, kecuali yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.Allah Swt berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 49:1)2. Allah menciptakan jin dan manusia untuk satu tujuan yakni mengabdi kepada Allah Swt.Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)3. Jin diciptakan dari percikan api neraka sebelum manusia diciptakan. “Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. 55:15)4. Iblis adalah keturunan jin yang membangkang dari perintah Allah, Dia bukan golongan malaikat.Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:"Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. 18:50)5. Syetan adalah sebutan bagi pembangkang dari golongan jin dan manusia, sebagai musuh dari setiap orang beriman.Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112)6. Jin adalah ummat seperti manusia, ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang mukmin dan ada yang kafir, agama mereka berbeda-beda, tetapi mereka harus tetap mengikuti syariat.Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. 72:11)7. Jin bisa melihat manusia, sedangkan manusia tidak bisa melihat jin.Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)8. Jin tidak dapat menampakkan diri kepada manusia, tetapi jika yang muncul sejenis sesuatu yang menakutkan seperti kuntilanak, genderuwo, dsb maka itu adalah setan yang ingin menakut-nakuti manusia tapi bukan asli jin.(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)9. Setiap manusia diikuti oleh dua qarin dari jin dan dari malaikat. Qarin dari malaikat selalu membisikkan kebaikan, sebaliknya qarin dari jin selalu membisikkan kejelakan dan kejahatan. Sedangkan qarin dari jin yang mendampingi Rasulullah Saw telah masuk Islam.Tidaklah salah seorang dari kalian, kecuali telah didampingi oleh qarinnya dari golongan jin dan malaikat. Para sahabat bertanya, “Dan engkau juga ya Rasulullah/” Rasulullah menjawab, “Demikian juga dengan saya. Tetapi Allah telah membantu saya atasnya. Maka dia masuk Islam. Dan ia tidak memerintahkan saya kecuali dalam kebaikan” (HR. Muslim)10. Memohon perlindungan kepada jin adalah haram, seperti minta perlindungan terhadap dirinya, kesehatannya, keselamatannya, hartanya, rumahnya, kantornya, kebunnya, kenadaraannya, jabatannya, usahanya, agamanya, dsb.Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. 72:6)11. Jin bisa merasuk ke dalam jasad manusia dan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw:“Sesungguhnya syaitan itu mengalir dari tubuh manusia melalui jalan darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)12. Syetan atau jin pembangkang tidak akan mampu menguasai orang yang beriman dan selalu bertawal kepada Allah.Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. 16:99)13. Orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan syirik, mereka mendapat jaminan keamanan dan jaminan petunjuk dari Allah.Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)14. Gangguan jin terhadap manusia dengan merasuk ke dalam jasadnya adalah tindakan zhalim. Terapinya adalah dengan cara membersihkan keimanannya, meluruskan ibadahnya dengan memperbanyak dzikir.15. Terapi secara syar’i adalah bagian dari jihad fi sabilillah melawan syaitan maka kita haruslah tetap istiqamah di atas jalan yang haq.Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 35:6)Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76)Sesungguhnya jin dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (Al Quran, surat Al A'raf : 27)Makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.Apakah Jin itu?Jin dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Firman Allah, "Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."(QS. Al A'raf 27).Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhkuk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, "Setan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena adanya doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia."(HR Al Bukhari).
Asal kejadian Jin
Kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah berfirman, "Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al Hijr: 27). "Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api." (QS. Ar Rahman : 15).Rasulullah bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum]." (HR Muslim dari Aisyah di dalam kitab Az- Zuhd dan Ahmad di dalam Al Musnad).Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud "api yang sangat panas" (nar al-samum) atau "nyala api" (nar) dalam firman Allah di atas ialah "api murni". Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya "bara api", seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.
Mengubah bentuk
Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri. Salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (setan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika kaum Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi SAW di Makkah. Kedua, dalam Perang Badr pada tahun kedua Hijriah, seperti diungkapkan Allah di dalam surat Al Anfal: 48.


Apakah jin juga mati?
Jin beranakpinakdan berkembang biak. Allah memperingatkan manusia agar tidak terkecoh menjadikan iblis (yang berasal dari golongan jin) dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin sebab mereka telah mendurhakai perintah Allah (QS. Al Kahfi: 50).Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi SAW berdoa: "Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna - Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati." (Bukhari: 7383, Muslim : 717)
Tempat-tempat Jin
Banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamaannya juga ada, di antaranya sama-sama menghuni bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian jin juga bisa tinggal bersama manusia di rumah manusia, tidur di ranjang dan makan bersama manusia. Tempat yang paling disenangi jin adalah WC, tempat manusia membuka aurat. Agar aurat kita terhalang dari pandangan jin ketika kita masuk ke dalam WC, hendaknya kita berdoa yang artinya, "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari (gangguan) setan laki-laki dan setan perempuan." (HR At-Turmudzi).Setan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Quran sengaja tak menjelaskan secara rinci. Mungkin karena kuburan sering dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (paranormal). Nabi SAW melarang kita tidur menyerupai setan. Setan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian setan untuk mempermainkan auratnya.
Setan selalu mendampingi manusia
Sudah menjadi komitmen setan akan senantiasa menggoda manusia agar durhaka kepada Allah. Oleh karena itu setan terus menerus mengincar manusia, setiap saat menyertai manusia sehingga setan itu disebut pula sebagai qarin bagi manusia, artinya "yang menyertai" manusia. Setiap manusia disertai setan yang selalu memperdayakannya, bahkan manusia dan qarin-nya akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Allah berfirman, artinya: "Yang menyertai dia (qarin-nya) berkata (pula): "Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh." (QS. Qaf: 27).

MEREDAM BARA HATI





MEREDAM BARA HATI
MARAH yang berkepanjangan dapat melahirkan penyakit dendam, bila dendam itu di biarkan terus menerus maka semakin lama semakin membara dan hati akan tertutup dengan noda-noda kebencian, merasa muak bahkan sama sekali tidak tertarik dengan yang kita dendami. Apabila kebencian demi kebancian telah menumpuk dalam hati, manakala orang yang kita benci mendapat kesengsaraan, mendapat kesulitan kita justeru merasa senang. Begitu dengan sebaliknya, bila orang yang kita benci mendapat nikmat kebahagiaan justeru kita merasa gelisah tidak merasa senang, dalam hati berharap agar nikmat yang telah di berikan oleh Allah itu musnah. Inilah yang di sebut penyakit hasud atau iri hati.

Jelaslah kini bahwa iri hati itu lahir dari dendam. Sedangkan dendam lahir dari al-ghadlab atau marah. Jadi marah adalah asal dari dua penyakit besar hati manusia.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits bahwa ada seorang laki-laki ( ada yang mengatakan laki-laki itu adalah Haritsah ibnu Qadamah, ada yang mengatakan Abu Dzarda’ dan ada yang mengatakan Ibnu Umar ). Laki-laki tersebut berkata pada Rasulullah SAW :”Ya Rasul, wasiati aku!” Rasul menjawab:”Jangan marah!” Laki-laki ini merasa tidak puas terhadap jawaban Rasul SAW yang begitu singkat itu. Dia kembali lagi pada Rasulullah untuk minta wasiat, maksudnya mungkin ada wasiat lain yang lebih baik ( ablagh ) dan lebih manfaat. Sebanyak orang tersebut kembali dan minta wasiat, sebanyak itu pula Rasul tetap menjawab :”Jangan marah!” Rasul tidak menambah satu kalimatpun pada nasehatnya. Karena kesempurnaan pengetahuan beliau akan manfaat menahan marah, dan pula sejauh mana bahaya-bahaya yang akan di timbulkannya.

Marah menurut syeikh Ahmad bin al-Hejaziy dalam al-Majalisussaniyah adalah bergerak dan mendidihnya darah dalam hati manusia ketika melihat sesuatu yang tidak di senangi dari selain dirinya. Dalam hadits Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa marah adalah bara yang ternyalakan dalam hati manusia, ini dapat terlihat pada wajah dan mata seseorang yang memerah ketika sedang marah.

Marah adalah termasuk sebagian fitrah manusia, makanya tidak mungkin di tumpas hingga ke akar-akarnya. Allah menciptakan sifat marah pada manusia agar manusia dapat menolak ancaman-ancaman dari luar yang membahayakan bagi dirinya, sebelum hal itu terjadi. Apabila manusia tidak memiliki sifat marah, ini juga sesuatu yang tercela dan ini merupakan kelemahan bagi manusia. oleh karenanya Imam Syafi’iy berkata ;”Manistughdliba fa-lan yaghdlab fahuwa himarun, barang siapa di buat marah oleh orang lain, namun tidak marah-marah juga, maka dia adalah keledai.” [ Ihya’ ulumiddin 163 / III ]. Marah yang di larang oleh Rasulullah adalah marah yang melampui batas yaitu kemarahan yang menghilangkan kendali akal, tuntunan agama dan ketaatannya pada aturan-aturan yang ada.
Adapun marah yang terpuji, yaitu marah yang di gunakan pada tempatnya, di mana dan kapan serta sebarapa jauh marah yang di perlukan. Dan hal ini bisa terjadi, apabiula kemarahan kita tidak di sertai emosional. Dalam keadaan seperti ini syetan tidak memiliki peluang untuk menguasai manusia. pleh karenanya banyak dokter-dokter Timur Tengah dalam memberi nasehat kepada pasien yang terkena penyakit tekanan darah tinggi, mereka mengatakan :”Rasulullah tidal pernah marah sambil emosi.” [ Rasulullah dan kesehatan oleh Nsrullah. Berita Buana Oktober 1990. ]

Sedangkan yang sangat memperihatinkan pada saat-saat ini adalah kerancuan pemahaman marah yang terkadang di artikan sebagai keberanian, bahkan di anggap sebagai keperkasaan. Padahal marah adalah penyakit hati manusia. sesungguhnya orang yang marah itu adalah lemah jiwanya dan lemah akalnya. Berbagai penelatian membuktikan bahwa : Orang sakit lebih cepat marah dari orang sehat, wanita lebih cepat marah dari laki-laki, anak-anak lebih cepat marah dari orang dewasa dan orang- orang yang berperangai jelek lebih cepat marah dari orang yang berakhlak baik. Ini semua membuktikan betapa pemarah itu memiliki jiwa yang lemah. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda :”Orang yang kuat bukanlah orang yang dapat merobohkan lawan-lawannya, akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika dalam keadaan marah.”

Semakin tinggi intelektualitas seseorang, biasanya semakin mampu menahan dan mengendalikan emosionalnya.

Apabila kita terlanjur terjangkit penyakit marah, ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan untuk meredamnya :
Pertama, tauhid yang hakiki. Yaitu berkeyakinan bahwa tidak ada yang melakukan sesuatu kecuali kenyataannya adalah Allah. Seluruh makhluk ini adalah alat atau perantara. Apapun yang terjadi pada kita adalah ujian dari Allah. Sahabat Anas hidup bersama Rasulullah SAW sepuluh tahun, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW tak pernah mengatakan terhadap apa yang di lakukan oleh Anas:”Mengapa tidak kau lakukan itu ?” Akan tetapi Rasulullah selalu mengatakan terhadap apa yang di lakukan oleh Anas:” Allah telah memberi kepastian terhadap setiap sesuatu, bila Allah berkehendak, Dia akan mengerjakannya. Dan bila Allah memasatikan sesuatu, niscaya akan ada.”

Kedua, mohon perlindungan pada Allah dari godaan syetan dan mengambil air wudlu’. Sabda Rasulullah SAW :”Apabila kalian marah-marah, maka ambillah air wudlu’! karena sesungguhnya marah itu dari api, sedangkan yang dapat memadamkan api adalah air.” ( HR. Abu Daud ). Sabdanya lagi :”Marah itu dari syetan dan sesungguhnya syetan di ciptakan dari api. Api itu hanya bisa di padamkan dengan air. Maka bila marah berwudlu’lah!”

Ketiga, merubah posisi. Abu Dzar al-Ghifari, pernah meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulallah SAW bersabda :” Apabila kalian marah pada saat berdiri, maka duduklah! Apabila masih belum juga hilang marahnya, maka tidurlah!” Maksud dari ini semua adalah diam dan semakin merapatkan diri dengan bumi yang merupakan asal kejadian manusia. karena sesungguhnya sebab-sebab marah adalah hawa panas, dan penyebab panas adalah gerak. Maka diamlah!” Dan tujuan merapatkan diri dengan bumi, di harapkan kita dapat kembali merasakan kelemahan dan kehinaan diri sebagaimana tanah.

Keempat, menekan diri untuk selalu bersabar dalam kemarahan. Bagaimana caranya? Apabila ada orang lain menyebut-nyebut kekurangan yang memang ada pada kita, maka katakana! “Dosaku yang kau sebutkan itu semoga Allah mengampuninya.” Apabila orang lain membuat-buat sesuatu yang tidak ada pada diri kita ( fitnah ), maka sebutkanlah! “al-hamdulillah.” Karena pada sesungguhnya Allah sedang menyirami kita dengan kebaikan-kebaikan.

Kelima, memandang langit dan bumi. Urwah bin Muhammad ketika akan bertugas ke Yaman, ayahnya hanya berpesan :” Apabila kamu marah, pandanglah langit di atasmu dan pandanglah bumi di bawahmu, kemudian renungkanlah penciptanya!”

Keenam, menahan lidah dan tangan untuk bergerak. Seorang lelaki mendekati Salman al-Farisi, dia menyatakan :”Wahai hamba Allah, wasiatilah aku!” Salman menjawab :”Jangan marah!” Laki-laki itu menjawab :”Aku tidak mampu.” Kemudian Salman berkata lagi :”Bila kamu marah tahanlah lidah dan tanganmu!”

Kemampuan menahan marah adalah termasuk tanda-tanda orang yang bertakwa. “Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang di sediakan untuk orang-orang yang bertakwa, ( yaitu ) orang-orang yang menafkahkan ( hartanya ), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya. ( Alu-Imron: 133-134 ).

Seseorang minta diberi satu nasehat pada Rasulullah SAW yang dapat mendekatkannya pada sorga dan menjauhkannya dari neraka. Rasulullah SAW bersabda :”Jangan marah! Dan bagimu sorga.” ( HR. Thabrani dalam syarah al-Zarqaniy 324 / 4 ). [] .


Penulis : Muchsin Gz
Pengajar madrasah diniyah Wustha
Ponpes Al-Utsmani Beddian Jambesari
Darus Shalah Bondowoso.














YANG paling di harapkan dalam pendidikan adalah perubahan. Perubahan cara berfikir, perubahan sikap dan perubahan tingkah laku. Tingginya ilmu pengetahuan tidak akan begitu berarti apabila tidak di iringi dengan peningkatan kwalitas akhlakul karimah. Apa artinya memiliki sederet gelar dan mencari ilmu di sekolah-sekolah bergengsi kalau akhlaknya amburadul, ibadahnya acak-acakan. Dan agaknya yang seperti ini yang sering terjadi, penambahan ilmu tidak di barengi dengan penambahan hidayah. Mengapa hal ini terjadi? Karena diantara kita saat ini terlalu membanggakan fasilitas tetapi tak peduli pada kwalitas.

Ilmu yang sejati adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah, sehingga ilmu tersebut dapat mengantarkan pemiliknya pada kebahagiaan hidup fiddarain. Apabila ilmu tidak di sertai rasa takut ( khasy-yah ), maka ilmu itu bukan membawa manfaat, yang ada adalah membawa bahaya bagi pemiliknya. Karena dengan ilmunya orang tersebut bukan semakin dekat dengan sorga, malah justeru semakin melebarkan jalannya ke neraka.

Rasulullah SAW bersabda :”Tiap hari dimana aku tidak bertambah ilmu yang mendekatkan aku kepada Allah, maka berarti tidak barakah bagiku terbit matahari pada hari itu.”
Sabdanya lagi :”Akan tiba suatu masa pada ummat manusia, tiada tinggal al-Qur’an kecuali tulisan, dan Islam hanya namanya saja. Hati orang-orangnya kosong dari petunjuk ( hidayat ), dan masjid hanya penuh jasad manusia yang tak berhati takut. Sejahat-jahat manusia waktu itu ialah ahli ilmu, sebab dari mereka sumber fitnah dan kepada mereka pula kembalinya.

Lalu bagaimana mencari lembaga pendidikan yang betul-betul mampu mengadakan perubahan? Apakah pendidikan tersebut harus memiliki fasilitas yang canggih? Tidak terlalu salah! Karena fasilitas yang memadai turut menjadi penunjang terhadap “suksesnya” suatu lembaga pendidikan. Atau lembaga pendidikan tersebut harus memiliki program dan management yang baik dan rapi? Inipun ada benarnya! Karena program yang bagus dan mamagemant yang handal turut membantu dalam pembentukan kepribadian dan keberhasilan anak didiknya.

Ada satu hal yang sering tidak di perhatikan oleh setiap kita, mungkin kita terlalu terpesona dengan fasilitas indah dan megah yang di lengkapi dengan program serta management yang membius hati, hal tersebut adalah “kwalitas guru”.

Jangan sembarangan mencari guru, carilah guru yang mampu “ membawa pada perubahan “, bukan hanya bisa mengajar. Barangkali kalau yang bisa mengajar dimana-mana bisa kita dapatkan. Akan tetapi seseorang yang bisa mengajar itu belum tentu bisa membawa dan merubah anak didiknya. Mencari guru yang bisa mengajar dan sekaligus membawa pada perubahan di zaman sekarang seperti mencari jarum yang jatuh dalam jerami. Guru seperti inilah yang di sebut guru sejati. Dan guru sejati memiliki kretaria- kretaria tertentu. Antara lain :

1.TINGKAH LAKUNYA MEMBEKAS DALAM HATI
Rasanya tidak terlalu sulit mengolah pembicaraan supaya di dengarkan orang. Orang lain menjadi senang dan terhibur dan akhirnya bertepuk tangan untuk kita, syaratnya hanya dua yaitu menyusun materi dengan baik dan banyak-banyak berlatih. Tetapi apakah iya apa yang kita bicarakan masuk dan membekas di hati para pendengarnya? Wallahu a’lam!

Guru yang sejati bukanlah guru yang hanya pandai mengolah kata dan bersilat lidah, sehingga wajah murid-muridnya terpukau melihatnya. Akan tetapi guru yang sejati adalah guru yang memberi bekas dengan isyarat dan tingkah lakunya. Guru macam ini diamnya atas suatu perkara diamati dalam-dalam oleh murid-murid, mengapa sang guru tidak berkomentar. Jadi tidak bicara saja sudah menjadi pelajaran, apalagi dia berkenan berbicara dan menjelaskan suatu hikmah.

Isyarat dan tingkah lakunya di baca, di pelajari, di kaji dan selanjutnya di contoh oleh murid-muridnya. Dimana-mana tak bosan akhlak guru ini di perbincangkan dalam setiap pertemuan sekalipun sang guru telah meninggal dunia. Hal inilah yang lambat laun akan mengubah sikap murid-murid secara bertahap.

Guru yang sejati bukanlah guru yang hanya bisa di dengarkan, akan tetapi guru yang sejati adalah guru yang dapat diambil darinya baik pembicaraan, lebih-lebih lagi tingkah laku serta akhlaknya.

2.MEMBANGKITKAN SEMANGAT MURIDNYA
Seorang guru sejati memiliki semangat ibadah yang tinggi dan semangat mencari ilmu yang tak pernah padam. Semangat yang menggelora itu, terpancar dari tingkah laku dan tutur kata di setiap pertemuan dengan murid. Sehingga siapapun yang mendekat akan tersuluh semangat ibadah dan ilmiahnya. Akhirnya orang yang mendekat baik murid maupun sahabatnya akan bersama berkembang menuju kehidupan yang lebih baik. Seperti halnya ragi: Ketela yang asalnya berharga murah, ketika di dekati oleh ragi berubah menjadi tape, mahallah harganya. Bukan hanya di konsumsi oleh orang-orang pinggiran, tapi masuk pada kota-kota besar dan di konsumsi oleh orang-orang elit. Demikianlah guru mengadakan perubahan pada murid-muridnya. Di mulai sejak sang murid tidak berharga sama sekali hingga dia memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah dan di hadapan manusia, mahallah harganya.

3.MENGELUARKAN MURID DARI PENJARA NAFSU DAN MASUK BERSAMA-SAMA MENDEKAT PADA ALLAH.
Dengan kretaria yang ketiga ini, seharusnya seorang guru telah mampu menundukkan nafsu sendiri. Sebab mana mungkin bisa mengeluarkan murid dari cengkraman dan belenggu penjara nafsu, kalau dirinya masih menjadi budak nafsu. Idealnya nafsu seorang guru harus sudah berupa nafsu muthma’innah, nafsu yang telah tenang, telah jinak, maksudnya nafsu yang sudah dapat dikendalikan pada hal-hal yang bermanfaat. Nafsu muthma’innah adalah nafsu yang telah merasa tenang dengan melakukan al-ma’ruf atau kebaikan, juga sudah tidak doyan pada hal-hal yang di larang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Apabila nafsu seorang guru masih berupa nafsuh lawwamah yakni orangnya masih sering melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan-aturan agama dan norma, meski orangnya sudah bisa menyadari dan menyesali atas pekerjaannya itu, di khawatirkan guru tersebut nanti bisa memberi contoh pada murid-muridnya dengan hal-hal yang tidak baik, ketika si guru terjerembab dalam jurang kemaksiatan, karena lisanul-hal afshah min lisanil-maqal, lidah perbuatan lebih fasih dari pada lidah yang di gunakan untuk berbicara. Artinya murid-murid lebih banyak meniru dari pada taat terhadap apa yang di dengarkan.

Apalagi nafsu sang guru masih “ammarah”, artinya pak guru masih takluk di bawah kemauan nafsunya. Jangan diharap guru ini bisa merubah tingkah laku muridnya. Pada diri sendiri saja-terhadap apa yang ia lakukan- masih belum mampu membedakan, apakah itu bisikan iman dari cahaya hati, ataukah dia lakukan atas bisikan nafsu? Karena pada sebenarnya dalam diri kita setiap hari selalu berperang antara bisikan keimanan dalam hati dengan bisikan nafsu. Sedangkan orang yang nafsunya masih ammarah dia selalu tunduk dibawah ajakan nafsu. Jadi kalau mengajar bisa di pastikan lebih banyak merusaknya daripada membangunnya.

Maka hanya guru yang sudah nafsul-muthma’innah yang dapat membebaskan murid-murid dari kungkungan penjara nafsu, kemudian diajak bersama-sama untuk mendekat pada Allah, berburu mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat.

4.SELALU MEMBERSIHKAN KOTORAN HATI MURID-MURIDNYA
Pendidikan bukan hanya membekali otak dengan ilmu, serta melatih tangan dengan keterampilan. Otak ini adalah alat untuk berfikir dan tangan alat yang bisa di gunakan untuk bekerja. Apabila otak di bekali dengan ilmu, maka kita menjadi manusia yang pinter, bahkan cendikiawan. Bila tangan di bekali dengan ilmu keterampilan, maka membuat kita kreatif, dan berdaya cipta tinggi. Namun kita harus ingat. Otak yang cendikia dan tangan yang terampil tidak akan ada artinya apabila hatinya busuk dan kotor, karena hati ini sebenarnya adalah raja dari otak itu, dan hati adalah raja dari tangan yang sudah terlatih dengan baik. Apabila hati kotor, otak yang terasah akan di buat untuk berfikir hal-hal yang di larang oleh norma dan agama. Tangan yang professional akan di buat untuk berkarya dengan hal-hal yang berlawanan arah dengan norma dan agama. Mengapa? Karena rajanya busuk, maka anggota badan akan senang melakukan hal-hal yang busuk dan kotor pula.

Adalah suatu keniscayaan apabila seorang guru harus mengetahui bentuk-bentuk penyakit hati seperti sombong, riya’ ujub, dengki,iri hati dan lain-lain, kemudian mampu membersihkan dan mengobati penyakit-penyakit tersebut dengan baik. Karena pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang dapat menyentuh tiga hal yaitu: otak, tangan dan juga menyentuh bagian terpenting dalam diri manusia adalah “hati!”

5.MEMBERSIHKAN TINGKAH LAKU MURID DENGAN AKHLAKNYA, MEMBUAT BATIN MURID BERSINAR DENGAN CAHAYA HATINYA.
Sebagai seorang guru, seharusnya menyadari bahwa segala yang dia katakan atau lakukan, tidak terlepas dari pengamatan yang teliti dan cermat dari murid-muridnya. Makanya seorang guru yang baik, sebelum melakukan sesuatu akan senantiasa bertanya kepada diri sendiri.”Pesan apa yang saya kirimkan melalui kelakuan saya ini? Lalu contoh apa yang akan saya berikan saat ini? Kemudian lingkungan yang bagaimana yang ingin saya ciptakan?”

Sehingga tingkah laku guru akan senantiasa memberikan inspirasi. Kepada murid-muridnya untuk mengikuti. Bahkan tingkah laku guru akan menjadi tolok ukur, benar-tidaknya serta pantas tidaknya segala tingkah laku yang telah di lakukan selama ini. Maka jadilah akhlak guru yang menawan itu menjadi penjernih ( filter ) dari akhlak-akhlak murid yang telah terkontaminasi oleh debu-debu kotoran zaman.

Yang di maksud dengan cahaya hati guru adalah cahaya makrifat kepada Allah. Barang siapa yang belum sempurna cahaya makrifatnya, maka tidak akan mampu menuangkan cahaya ( ilmu/hikmah ) pada hati murid-muridnya. Bila dia menerangkan sesuatu pasti akan terlihat suram cahayanya, karena dia sendiri masih di liputi sesuatu yang berlawanan dengan hakekat, dan karena itulah dia di tolak oleh pendengarnya. Dalam arti masuknya-ya masuk dalam otak! Tapi apakah setiap yang ada di otak pasti jatuh bersemayam dan bersinar dalam hati? Belum tentu. Sedangkan hakekat ilmu adalah pengetahuan dan cahaya Allah yang telah masuk dalam hati, sehingga dapat menumbuhkan kesadaran, dan selanjutnya sang murid sedikit demi sedikit akan mengalami perubahan untuk menjadi baik seiring dengan perkembangan ilmiahnya. Hanyalah guru yang hatinya telah sempurna cahaya makrifatnya yang dapat menyinari hati murid-muridnya.

6.MAU BERKUMPUL KETIKA MURID MENDEKATI, DAN MENJAGA KETIKA MURID JAUH DARINYA.
Betapapun tinggi wibawa seorang guru, jangan sampai jadi penyebab renggang hubungan seorang guru dan murid, guru harus dekat dengan murid baik fisik maupun batin. Sebagaimana Rasulullah SAW senantiasa berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Mana mungkin seorang dokter yang ingin menyembuhkan seorang pasien, sedangkan dia tidak mau dekat dengan pasiennya. Separah apapun penyakit orang itu, senakal apapun keadaan murid tersebut, jangan sampai membuat sang guru benci dan menjauhi. Justeru yang nakal perlu mendapatkan perhatian khusus dan penaganan serius dan istimewa. Setiap kali berkumpul guru yang baik akan senantiasa menabur mutiara hikmah sebagai “barokah” bagi murid-muridnya. Tidak ada pertemuan yang sia-sia, semua penuh barokah dan sarat dengan faedah.

Apabila murid jauh dari sang guru, maka guru tidak akan mengurangi perhatiannya, dalam benaknya selalu berfikir ; “Bagaimana, dan apa saja yang di lakukan oleh murid di luar?” Apabila baik maka dia akan memberikan semangat agar terus maju. Dan bila kurang baik sang guru akan memberikan pengarahan, bimbingan serta pembinaan, walaupun si murid telah keluar atau lulus dari lembaga pendidikan yang dibinanya. Maka hubungan guru dan murid akan terus berlangsung. Silaturrahim dlahir batin akan tetap terjalin dengan baik. Jadi tanggung jawabnya bukan hanya sebatas ketika pegang kapur di depan papan tulis saja. Akan tetapi selamanya, maka tidak akan ada istilah “mantan guru” atau “mantan murid”. Sekali menjadi guru maka dia adalah guru selama hidup di dunia ini, sehingga nanti bertemu di sisi Allah dengan penuh keberuntungan di alam akhirat. [] ( eM Ha eS )




Penulis : Muchsin Gz
Pengajar madrasah diniyah Wustha
Ponpes Al-Utsmani Beddian Jambesari
Darus Shalah Bondowoso.





















HAKIKAT TAWADLUK




HAKIKAT TAWADLUk
Oleh : Muchsin Ghazali Alamat : RT / RW 30/06 Beddian Jambesari Darus Sholah Bondowoso 68263 Jawa Timur.
Hand Phone : 085856599200

BERANDA
KATA
Bismillah wal-hamdulillah, sholawat salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Muhammad Saw, keluarga dan seluruh sahabat-sahabatnya.

Kita sering melihat kucing kecil yang sedang diganggu oleh makhluk yang lebih besar dari dirinya, sedang membesar-besarkan diri dengan cara mengembangkan bulu dari kepala hingga ujung ekornya. Suara juga di besar-besarkan hingga menggaung layaknya seekor singa yang galak. Apakah tujuannya? Tidak ada lain, agar dia di sangka besar dan perkasa, lalu makhluk pengganggu itu menjadi takut dan menghormati. Akan tetapi walau bagaimanapun, kalau kita telusuri jauh kelubuk hati, sejatinya kucing kecil itu adalah penakut dan tidak percaya diri menghadapi pergaulan hidup ini, akhirnya bersandiwaralah dia sebagai makhluk besar dan hebat.

Demikian seorang sombong, dia takut menghadapi kenyataan hidup, dalam segala pergaulan dia tidak percaya diri, dia sering menyembunyikan keadaan nyata dirinya dibalik pengakuan-pengakuan palsu, maka di besar-besarkanlah omongannya tentang keadaan diri. Tetapi bisakah dia mendapat kebesaran dan kemulyaan hidup dengan berlagak besar seperti itu? Ternyata tidak! Di sini bukan dunia hewan, tetapi dunia manusia yang menjunjung tinggi akhlak dan tatakrama. Semakin manusia sombong, akan semakin diremehkan, mungkin dalam sementara waktu bolehlah orang lain percaya dengan omongan dustanya itu. Suatu saat cepat atau lambat satir itu akan tersingkap, lalu dia akan dibenci dan dicaci maki oleh orang lain, maka merosotlah harga dirinya. Karena Allah sangat tidak senang pada orang-orang yang menyombongkan diri.

Kunci untuk mencapai kemulyaan hidup bukan dengan membesar-besarkan diri seperti kucing tadi. Kuncinya Tidak lain dan tidak bukan, adalah hanya dengan sifat tawaduk atau rendah hati. Barang siapa yang tawaduk maka akan dicintai dan disayang oleh orang lain, dengan begitu bertambah mulyalah hidup orang tersebut.

Buku kecil ini akan sedikit membuka cakrawala pemikiran kita, tentang; apa dan bagaimana sifat tawaduk itu? Semoga dengan berbagai kesalahan dan kekurangannya dapat memberi manfaat terutama bagi penulis dan para pembacanya.
Beddian, 5 Februari 2008.M
Muchsin Gz


MUQADDIMAH
ANJURAN UNTUK TAWADUK


قال الله تعالى:
واحفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين
Rendahkanlah sayapmu (sikapmu) terhadap pengikutmu dari kaum mu’minin. (al-Hijr 88 – asy-Syuraa 215).

قال تعالى :
فلا تز كواانفسكم هو اعلم بمن اتقى
Janganlah kamu merasa sudah bersih, Dia Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa. (an-Najm : 32).

عن عياض بن حمار رضي الله عنه. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ان الله اوحى الي ان تواضعوا حتى لا يفخر احد على احد ولا يبغي احد على احد. رواه مسلم.
Iyadl bin Himar r-a berkata : Bersabda Rasulullah SAW :” Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada saya untuk bertawaduk (rendah hati) hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap orang lainnya, dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
الكرم التقوى والشرف هو التواضع واليقين الغنى. رواه ابن ابي الد نيا
Sifat pemurah itu adalah takwa, kemulyaan (orang yang mulya) itu adalah orang yang tawaduk (rendah hati) dan keyakinan adalah kekayaan.

Allah dan Rasul-Nya menganjurkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa bersifat tawaduk atau rendah hati. Dan seseorang yang telah memiliki sifat tawaduk bisa dipastikan orang tersebut telah memiliki cahaya persaksian (nurul musyahadah) kepada Allah yang begitu mendalam. Seorang yang tawaduk akan jauh dari sifat sombong, riya’ dan ujub. Mengapa demikian? Karena apabila seseorang telah mengetahui dengan benar (musyahadah) terhadap ‘kebesaran Allah’, maka tidak akan ada jalan untuk dirinya merasa besar (sombong), sebab yang besar itu hanyalah Allah.Yang mengetahui dengan benar akan kemaha kayaan Allah, maka tentu dirinya tidak akan merasa kaya, justeru akan merasakan fakir dan lemah di hadapan Allah SWT. Karena semua yang ada ini adalah milik Allah, kekayaan yang ada pada tangan manusia tak lebih hanyalah sebagai titipan belaka (amanah), ibarat pinjaman bila yang punya berkenan untuk mengambilnya, kapanpun kita harus siap menyerahkan barang tersebut. Maka tak sepatutnya manusia membanggakan diri dengan harta ditangan yang statusnya hanya pinjaman itu. Juga Sebagaimana tukang parkir, pantaskah dia bangga dan sombong dengan tumpukan kendaraan-kendaraan yang dititipkan padanya? Jawabnya tentu tidak, karena tukang parkirpun sadar kendaraan yang banyak itu bukan miliknya, setelah sampai pada batas waktunya akan diambil oleh yang punya.

Dan barang siapa yang telah mengetahui terhadap kekuasaan Allah, maka dirinya tidak akan merasa perkasa dan berkuasa hidup didunia ini. Demikian selanjutnya semakin mendalam pengetahuan seorang hamba pada kesempurnaan sifat-sifat Allah, maka semakin tak punya kesempatan mensosialisasikan dan atau menuturkan sifat-sifat yang dianggap lebih dari orang lain dalam dirinya, karena itu seorang mukmin yang sempurna, akan senantiasa sibuk memuji-muji Allah dengan sifat-sifat yang indah dan terpuji, karena memang hanya Allah-lah yang berhak dipuji. Dia akan senantiasa menjadi hamba yang bersyukur atas kehendak Allah, sehingga dirinya diberi kekuatan untuk beraktifitas dengan baik dan indah, serta bertingkah laku yang terpuji. Apapun yang indah dan apapun yang terpuji dalam diri selalu dihubungkan dengan karunia Allah. Dan diri ini hanyalah sebagai ‘sarana’ untuk menampakkan keindahan, yang sebenarnya yang terindah dan pemilik segala keindahan hanya Allah semata, kita sekedar tanda akan ke-maha indahan-Nya, maka tak pantas kiranya memuji sarana. Yang layak dipuji adalah dibalik tanda atau sarana itu yaitu pelakunya (fa’il) adalah Allah pemilik sejati segala pujian dan keindahan.

Kita oleh orang dibilang cantik umpamanya, siapa sebenarnya yang maha kreatif terhadap kecantikan itu? Kecantikan yang ada pada manusia adalah maha karya agung dari yang Maha memberi, Maya Membuat, Maha lembut, Maha halus, Maha indah dan Maha Cantik, semua itu tiada lain adalah Allah al-Jamil. Kalau buatannya sudah se-begitu cantiknya, hingga memusingkan setiap orang yang memandang. Lalu seperti apakah kiranya keindahan Dzat yang membuat makhluk cantik itu? Karena tidak mungkin sebuah hasil pembuatan, akan lebih baik dan lebih bagus dari pembuatnya. Maka seharusnya apabila ada orang memuji kepada kita dengan mengatakan ‘engkau sangat cantik atau engkau sangat tampan’, segera kembalikan pujian itu pada Allah! Dengan mengatakan ‘al-hamdulillah’ segala pujian hanyalah milik Allah. Maksudnya al-hamdulillah, segala puja-puji yang telah kau berikan itu bukan untukku. Tetapi hanya bagi Allah yang Maha Membuat dan Maha Indah. Aku ini hanya tanda atas ke-Maha cantik-anNya atau ke-Maha tampan-nanNya.

Seorang guru tak sepatutnya membanggakan diri karena telah berhasil memberikan pengetahuan kepada murid-muridnya, karena yang menuangkan cahaya ilmu itu Allah, kita sebagai guru cukuplah bangga karena Allah telah berkenan dan ridla mengangkat kita sebagai perantara untuk menyampaikan karunia ilmu Allah kepada seorang hamba yang dikehendaki-Nya. Tidak ada jabatan yang lebih mulia dari mendapat ridla Allah untuk menjadi perantara menyampaikan suatu kebaikan dari Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena itulah, As-Syafi’iy berkata kepada murid-murid beliau:”Siapapun yang pernah belajar sama saya, saya tidak rela walau sehurufpun ilmu yang telah sampai kepada kalian itu diyakini dari saya.” Imam as-Syafi’iy sehurufpun tidak marasa bahwa pengetahuan yang telah diperoleh oleh murid-muridnya itu dari beliau, akan tetapi semua itu adalah karunia dari Allah [fadlun-minallah]. Suatu ketawaduk-an yang sangat tinggi dari beliau karena kesempurnaan nurul musyahadah dalam diri as-Syafi’iy. Demikianlah sifat tawaduk tidak akan dimiliki oleh seseorang kecuali setelah nurul-musyahadah memancar terang dalam hatinya. []***

BAHASAN I
MENGAPA TAWADUK ITU BAIK ?



Kiranya sudah sangat umum diketahui ungkapan “khairul umur ausathuha“, sebaik-baik perkara adalah yang berada di tengah-tengah. Dan Allah senang terhadap perbuatan yang pertengahan.

Tawaduk itu dianggap baik karena ia ada di antara dua tepi. Tepi yang pertama disebut kekurangan, dan tepi yang kedua disebut berlebih-lebihan. Condong pada kekurangan disebut remeh dan merupakan kehinaan. Condong pada yang berlebih-lebihan disebut takabbur atau sombong. Sedangkan tawaduk ada di antara kehinaan dan kesombongan itu.

Orang yang selalu memamerkan dan menunjukkan kelebihan serta kehebatannya diatas orang lain disebut sombong. Demikian pula, jika seorang yang berilmu, apabila dia didatangi oleh tukang sandal, lalu dia bangkit dari tempat duduk kemudian orang alim itu mempersilahkan tukang sandal tersebut duduk ditempat duduknya. Lalu dia ke pintu memperbaiki sandal milik tukang sandal, kemudian dia duduk dengan tertib dibelakang tamu, yakni yakni tukang sandal itu. Perilaku seperti ini bukan tawaduk atau rendah hati namanya, tapi inilah yang disebut meremehkan dan menghinakan diri. Adapun yang baik adalah hendaknya merendahkan diri dengan tanpa kehinaan dan keremehan. Tawaduk sebagai perkara yang pertengahan adalah hendaknya merendahkan diri dengan tanpa terjerumus pada batas kehinaan dan keremehan. Dan tawaduk itu sebenarnya meletakkan sesuatu menurut perkiraan (kadar) yang berhak di terima, dengan jalan menempatkan masing-masing hak pada yang berhak mendapatkan. Inilah yang dimaksud pertengahan, karena tawaduk itu berada diantara hina dan sombong. Rasa hina diri sebaiknya hanya dihadapan Allah saja, karena hanya Allah yang maha Perkasa dan manusia ini lemah tak berdaya dihadapan-Nya. Makhluk manusia tidak boleh merasa hina diri dihadapan sesama manusianya.

Sikap yang perlu dibangun dalam menghadapi orang lain. Ialah hendaknya senantiasa memiliki perasaan lebih takut dan khawatir terhadap diri disamping keadaan orang lain. Mengapa harus khawatir? Karena manusia tidak ada yang tahu pada nasib dirinya nanti dalam kesudahan hidup didunia. Dengan begitu maka kita tidak akan melihat bahwa diri ini lebih baik dari orang lain, lalu orang lain tidak dianggap kecil, hina dan tak berharga. Karena boleh jadi orang yang dianggap kecil didunia ini, pada sesungguhnya dia memiliki derajat yang tinggi disisi Allah. Bukankah pangkat didunia tidak menjamin akan ketinggian Pangkat seseorang diakhirat nanti?

Ada manusia yang tinggi pangkatnya didunia dan akhirat, ada manusia yang tinggi pangkat di akhirat saja, adapula yang hanya tinggi pangkat didunia saja. Didunia dia dipuja dan disanjung-sanjung, tapi diakhirat dia menjadi isi neraka Jahannam. Na’udzubillah. Suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama beberapa sahabat, Mendadak ada seorang berjalan, lalu Rasul berkenan bertanya kepada seorang sahabat disebelah beliau:”Bagaimana pandanganmu tentang orang itu?” Sahabat yang didekat Rasul itu menjawab:”Dia seorang bangsawan yang mulia dihadapan orang-orang, demi Allah sungguh layak apabila dia berkenan meminang seorang wanita diantara kami untuk diterima, dan apabila dia membantu memintakan sesuatu untuk orang lain dia pasti dikabulkan.”

Rasulullah berdiam diri mendengarkan jawaban itu. Tak lama kemudian ada lain orang berjalan. Rasul SAW bertanya lagi pada sahabat yang disampingnya:”Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?” Sahabat itu menjawab:”Ya-Rasul orang itu sangat miskin, patut sekali kalau meminang untuk tidak diterima, dan kalau membantu memintakan sesuatu untuk orang lain pasti ditolak.” Maka Rasul bersabda:”Orang ini lebih baik dari sepuluh bumi dibanding orang pertama tadi.” [HR. Muslim, Riyadlus-Shalihin]. []***

BAHASAN II
BERBAGAI PENDAPAT TENTANG TAWADUK



Fudhail bin Iyadh pernah ditanyakan tentang tawaduk, beliau menjawab :”Rendah hati untuk kebenaran, menyelamatkan diri untuk kebenaran, dan menerima kebenaran dari orang lain.”Sebaliknya orang yang menolak kebenaran dengan apapun alasannya adalah merupakan suatu bentuk kesombongan.

Abu Yazid pernah juga di tanya :”Kapan orang itu di sebut tawaduk?” Beliau menjawab :”Setelah orang tersebut tidak memandang dirinya sendiri mempunyai kedudukan dan bukan realitas keadaan serta tidak memandang orang lain buruk.” Jadi saat ini apa yang kita jalani, sebenarnya bukan realitas keadaan yang sesungguhnya. Bukankah seseorang itu disukai, dipuji dan disanjung-sanjung orang, bukan karena orang tersebut hebat sesuai dengan kenyataan apa adanya. Akan tetapi yang sebenarnya adalah karena orang lain tidak tahu pada kekurangannya. Allah masih berkenan untuk menutup kekurangan hambanya yang dikasihi. Andai Allah SWT berkenan untuk membukanya! Wallahu a’lam. Maka yang indah dan yang dikagumi oleh orang lain itu bukan realitas kita manusia, akan tetapi hal itu adalah indahnya sitrah atau penutup yang diberikan oleh Allah kepada kita. Oleh karena itu banyak-banyaklah berdo’a :’Rabbana la tahtikissitra ‘anna wa ‘afina wa’fu ‘anna.’ Ya-Tuhan kami, jangan kau rusak penutup (atas kekurangan) kami, dan ampunilah segala dosa-dosa kami.

Menurut Ibnu Atha’ :”Tawaduk adalah orang yang menerima kebenaran dari orang lain.”Tidak mudah untuk bisa menerima dan mengakui kebenaran yang lahir dari orang lain. Menerima kebenaran dari orang yang kita anggap sederajat dengan kita saja sudah sulit. Apalagi bila kebenaran itu datang dari orang yang di anggap bawahan kita, seperti adik, anak, murid atau anak buah kita ataupun masyarakat awam yang notabene-nya mereka adalah lebih bodoh dari kita. Penyebabnya adalah tidak ada lain kecuali adanya sifat sombong. Selama virus sombong itu masih bercokol dihati kita, mustahil kita dapat mengakui datangnya kebenaran dari orang lain.

Menurut Ibnu Abbas :”Sebagian dari tanda-tanda ke-tawaduk-an adalah orang tersebut sudi meminum sisa minuman saudaranya.”
Sering kali kita merasa jijik minum sisa orang lain, mengapa jijik? padahal Rasulullah Saw, tidak merasa jijik dengan hal itu. Terkait dengan pendapat Ibnu Abbas ini penulis ingin sekali menulis kisah menarik bagaimana Rasulullah bersama para sahabat menikmati hadiah, walaupun agak panjang akan penulis sampaikan secara lengkap, dengan harapan semoga kita dapat mengambil manfaat dan barokah dari kisah indah ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah :” Suatu saat adakalanya saya terpaksa menekankan perutku ke tanah karena lapar. Kata beliau. Dan adakalanya saya mengikat batu diperutku karena lapar. Dan pada suatu hari saya duduk dijalanan. Mendadak Nabi Saw. Berjalan dan tersenyum ketika melihat saya, tampaknya beliau sangat memahami penderitaanku, maka beliau berkata:”Ya Aba Hirr!” Aku menjawab:”Labbaik ya-Rasulallah.” Lalu Nabi Saw. Mengajakku untuk mengikuti, maka aku ikuti Rasul Saw. Hingga sampai dirumahnya, kemudian mengijinkan saya masuk, dan disitu Rasulullah menemukan segelas susu. Beliau bertanya kepada isterinya :”Dari manakah susu ini?” Jawab isterinya:”Fulan telah mengirimkan hadiah untukmu.”Rasulullah lalu memanggil saya:”ya-Aba Hirr! Pergilah panggil ahlus Shuffah!” Jika Rasulullah mendapat sedekah, maka pada biasanya dikirim langsung kepada mereka dan Rasulullah tidak mengambil sedikitpun dari padanya, tetapi jika mendapat hadiyah dimakan sebagian dari padanya, dan sebagian diberikan ahlusshuffah.

Mengenai segelas susu itu aku merasakan berhak mendapatkan seteguk terlebih dahulu, untuk mengembalikan kekuatan yang telah hilang daripadaku. Dan nanti kalau ahlusshuffah datang tentu saya yang akan disuruh melayani mereka. Nanti kalau saya tidak mendapat minum duluan, lalu aku dapat minum apa? Demikian bisik suara hatiku. Namun perintah Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dibantah. Maka saya pergi dengan segera memanggil ahlusshuffah. Dan ketika mereka telah datang kerumah Nabi, masing-masing telah mengambil tempat duduknya. Nabi memanggil saya:”Hai Abu Hirr!” Jawabku:”Labbaik ya-Rasulullah.”. Bersabda Nabi:”Terima ini dan bagi-bagikan kepada mereka.” Maka saya terima gelas itu dan saya berikan pada orang pertama untuk diminum sampai puas, kemudian dikembalikan kepadaku dan saya berikan kepada orang kedua, ketiga, keempat dan semuanya minum sehingga puas baru mengembalikan gelas itu kepadaku, sehingga berakhir kembali kepada Rasulullah Saw. Setelah selesai semua yang hadir itu, maka Rasul menerima kembali gelas itu sambil tersenyum kepadaku, dan beliau berkata:”Ya-Aba Hirr, tinggal saya dan engkau yang belum minum.”Aku menjawab:”benar Ya Rasulullah.” Kemudian Nabi bersabda kembali :”Duduklah dan minumlah sekarang.” Maka saya duduk sambil minum. Dan Nabi bersabda:”minumlah!” Maka saya terus minum. Dan Nabi selalu mengulangi:”Minumlah!” Hingga saya berkata:”Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, sudah tidak ada lagi tempat diperutku. Kemudian Rasulullah bersabda:”berikan kepada aku gelas itu!” Kemudian Rasulullah memuji dan bersyukur kepada Allah dan membaca bismillah. Rasul saw meminum sisa-sisa susu itu. Demikianlah ketawaduk’an junjungan kita nabiyyul mukhtar Muhammad Saw.

Hamdun al-Qash-shar berkata :”Yang di maksud tawaduk adalah jangan menganggap orang lain itu butuh pada diri kita, baik urusan dunia maupun urusan akhirat.”

Secara umum orang yang memiliki sifat tawaduk akan berperilaku seperti ini: Jikalau ia melihat orang bodoh, dia akan berkata :”Orang itu bermaksiat kepada Allah karena kebodohannya. Sementara saya berbuat maksiat kepada Allah dengan ilmu pengetahuan yang ada pada saya, maka dia orang yang bodoh itu lebih diampuni dosanya dari pada saya.”

Jika dia melihat kepada orang yang berilmu (alim) dia akan berkata :”Orang alim ini telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, maka bagaimana aku bisa seperti dia? Sedangkan Allah sendiri berfirman:’Apakah sama orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu?’ Disini Allah ingin menegaskan bahwa memang tidak akan pernah sama antara saya yang tidak tahu dengan dia yang ‘alim.”

Jika orang tawaduk melihat orang yang lebih tua umurnya, dia berkata :”Orang ini telah taat kepada Allah sebelum ada aku, Jadi amal baiknya sudah lebih banyak dari aku, maka bagaimana aku bisa seperti dia?”

Dan jika ia melihat kepada anak yang lebih kecil, dia berkata :”Sesungguhnya aku telah melakukan maksiat kepada Allah sebelum dia, sedangkan anak kecil ini baru berumur beberapa tahun saja, jadi dosanya pasti masih belum seberapa dibanding dengan dosaku, maka bagaimana mungkin aku bisa seperti dia?”

Apabila orang yang memiliki sifat tawaduk melihat kepada orang yang berbuat bid’ah atau melihat orang yang masih kafir sekalipun, dia akan berkata :”Saya tidak tahu, semoga dia berkesudahan baik, dengan memeluk agama Islam. Dan saya berkesudahan dengan apa yang ada pada masa sekarang. Karena tidak seorangpun yang dapat menjamin kekekalan suatu petunjuk, kecuali Allah.”

Jadi dengan kebeningan hatinya, orang yang tawaduk tidak akan ada kamus buruk sangka kepada siapapun dalam hidup ini, tidak merasa apa yang dia tekuni saat ini adalah yang terbaik, tidak menganggap apa yang dia lakukan adalah pekerjaan orang-orang yang memiliki kelas tinggi dihadapan Allah atau apa yang dia lakukan adalah pekerjaan orang-orang dewasa, sementara kegiatan orang lain dianggap selalu kekanak-kanakan. Apabila kita merasa seperti ini, maka ketahuilah bahwa kita sedang ada dalam kendali syetan, kita tidak sadar bahwa pada saat yang bersamaan sebenarnya kita berada dipuncak kesombongan, dan sombong itu adalah pekerjaan syetan la’natullah. Bukankah syetan diusir dari sorga oleh Allah, gara-gara kepongahan dan kesombongannya, dengan percaya diri dia berkata:”Aku diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari lumpur, jadi aku masih lebih baik dari Adam.” Lalu Syetan menolak kebenaran (perintah Allah). Sikap seperti ini akan senantiasa dihembuskan oleh syetan kepada bangsa manusia sehingga mereka merasa paling bersih, paling suci, paling benar, paling dewasa dan lain-lain. Semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah dari godaan-godaan syetan yang terkutuk.

Karakter orang tawaduk selalu mencari dan condong memandang pada celah positif dari apa saja yang ada di depannya dia selalu inklusif dengan segala kebenaran, oleh karenanya orang yang tawaduk akan selalu mengalami peningkatan, baik ibadah maupun ilmunya. Dari itulah Allah akan senantiasa mengangkat derajatnya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Didunia dia akan hidup terhormat dan disegani, karena dari sikap dan pembicaraannya, dia akan senantiasa memancarkan dan melahirkan cahaya-cahaya hikmah, yang akan selalu diperbincangkan dan diteladani oleh orang lain. Diakhirat, dia sebagai kekasih Allah akan mendapatkan tempat yang begitu indah dan menyenangkan yaitu Jannatunna’im, sorga yang penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara. []***




BAHASAN III
FIGUR-FIGUR TAWADUK


Al-Aswad bin Yazid berkata: ”Saya bertanya kepada Aisyah r-a tentang apa yang dikerjakan Nabi SAW, beliau menjawab :”Rasul SAW senantiasa membantu dan berhidmat pada keluarganya, ketika masuk waktu sholat baru beliau keluar rumah.”

Abi Rifa’ah Tamim bin Usaid bercerita :”Ketika saya sampai pada Rasulullah SAW, beliau sedang berkhutbah. Maka saya berkata :”Ya, Rasul seorang gharib (asing) datang ingin bertanya tentang agama, karena ia belum mengerti agamanya.” Maka turun Rasulullah SAW dan menghentikan khutbahnya, kemudian duduk didepanku, mengajarkan kepadaku dari apa yang di ajarkan Allah kepadanya. Kemudian setelah selesai meneruskan khutbahnya hingga selesai. (HR. Muslim).

Suatu ketika amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib dengan pelayannya Qanbar. Sedang berada disebuah pasar. Saat itu beliau membeli dua potong baju dimana yang lebih bagus diberikan kepada Qanbar. Maka Qanbar berkata:”Mengapa tuan memberikan kepada saya baju yang lebih bagus, sedangkan tuan adalah majikan saya dan khalifah kaum muslimin?” Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib menjawab:”Aku malu kepada Allah apabila aku mengutamakan diriku daripada engkau!”

Ali bin Abi Thalib adalah seorang hamba Allah, dan Qanbarpun seorang hamba Allah juga. Apabila saat itu Ali bin Abi Thalib memiliki kedudukan sebagai amirul mukminin, maka Allah-lah yang memberikan kedudukan itu. Adapun kedudukan sebagai makhluk dan hamba Allah keduanya adalah sama. Manusia semulia Ali bin Abi Thalib masih merasa sejajar dengan pelayannya. Ini adalah salah satu ke-tawaduk-an yang luar biasa dari seorang pemimpin besar yang berjiwa besar.

Abu Hurairah seorang perantau dari Daus yang bekerja sebagai pelayan dari rumah kerumah yang lain, beliau bercerita :”Ada seorang perempuan hitam yang pekerjaannya menyapu masjid. Pada suatu hari, Nabi SAW menanyakan ihwalnya. Para sahabat mengatakan, bahwa dia sudah meninggal dunia. Seketika itu Nabi menegur mereka mengapa tidak di beri tahu. Sahabat-sahabat mengatakan, bahwa perempuan itu hanyalah orang kecil saja. Kata Nabi SAW :”Tunjukkan aku kuburannya!” Di atas kuburan perempuan itu Rasulullah SAW melakukan sholat untuknya. Kemudian Rasul bersabda:”Seluruh isi kubur ini adalah gelap gulita, sekarang Allah sudah memberikan cahaya terang benderang kepada seluruh ahli kubur ini, karena shalat saya.” (Riyadlus-Shalihin, Hal:140). Seorang pemimpin manusia didunia dan akhirat tidak merasa gengsi melayat dan melakukan sholat diatas kubur perempuan tua renta dan berkulit hitam. Yang mana pada masa hidupnya orang-orang merasa tidak perlu memberi penghormatan kepadanya. Hanyalah dengan ketawaduk-an yang tinggi seseorang dapat melakukan hal seperti ini.

Sa’id bin Mu’adz al-Anshori juga berkisah. Waktu itu Nabi SAW baru pulang dari perang Tabuk. Beliau melihat tangan Sa’ad yang hitam dan melepuh. “Kenapa tanganmu?” Tanya Rasulullah SAW. “Karena di akibatkan oleh palu dan sekop besi yang saya pergunakan untuk mencari nafkah bagi keluarga yang menjadi tanggunganku.”Rasulullah SAW mengambil tangan itu dan menciumnya. Seraya berkata :”Inilah tangan yang tidak akan pernah di sentuh oleh api neraka.” (Dikutib dari buku Islam Aktual, Jalaluddin Rahmat hal:207 ).

Zaid bin tsabit mengendari hewan tunggangan, tiba-tiba Ibnu Abbas datang mendekatinya untuk memperoleh pengajaran, seraya memegang kendali hewan tunggangannya, dengan sikap menunduk. Zaid merasa tidak enak, kemudian melarangnya :”Lepaskan, wahai putera paman Rasulullah.”Namun Ibnu Abbas tidak mau mempedulikannya. Dia tetap memegangnya seraya mengatakan :”Seperti inilah kami di perintahkan untuk sopan atau tawaduk kepada ulama kami.”Rupanya Zaid cukup cerdik. Dia segera merebut tangan Ibnu Abbas, menarik kemudian menciumnya, sambil mengatakan :”Seperti inilah kami di perintahkan berbuat baik kepada keluarga Rasulullah SAW.”

Urwah bin Zubair mengatakan :”Saya pernah melihat kholifah Umar bin Khattab, sedang memanggul air, di atas pundaknya terdapat sebuah girbah (tempat air dari kulit). Saya mengatakan :”Wahai Amirul mukminin, tidak seharusnya tuan berbuat seperti ini.” Beliau menjawab :”Ketika para utusan datang kepadaku, mereka mendengarkan dan tunduk kepadaku, sehingga kesombongan terkadang muncul dalam diriku. Oleh karena itu, saya harus menghilangkannya, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya dan membawa girbah tersebut keruang dapur seorang wanita dari golongan Anshor dan menuangkannya kedalam wadah sampai penuh.

Abu Dzar al-Ghifari dan Bilal al-Habsyi pernah saling berbantah-bantahan. Abu Dzar mencela Bilal dengan kata-kata “hitam“, Bilal mengadu kepada Nabi SAW. Kemudian beliau memanggil Abu Dzar dan menegurnya :”Wahai Abu Dzar, di dalam hatimu masih terdapat sifat sombong seperti kesombongan orang-orang Jahiliyah.” Setelah itu Abu Dzar menimpakan beban pada dirinya sendiri. Dia bersumpah untuk tidak mengangkat kepalanya sebelum pipinya di injak oleh Bilal dengan telapak kakinya. Abu Dzar tidak mau mengangkat kepalanya sehingga Bilal melaksanakan apa yang di inginkan.

Rasulullah SAW, sungguhpun beliau memiliki kapasitas sebagai pemimpin besar, dalam kesehariannya senantiasa bersikap tawaduk kepada orang lain, bahkan kepada pengikutnya sekalipun. Beliau enggan meminta tolong atau menyuruh orang lain, selama baliau mampu mengerjakannya sendiri. Abu Sa’id al-Khudri, meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah SAW, pernah memberikan makanan pada unta, menyapu rumah, menjahit sandal, menambal pakaian, menggembala kambing, makan bersama pelayan dan menggoreng ikan. Rasulullah SAW tidak malu membawa belanjaannya dari pasar menuju ketempat keluarganya. Beliau pernah juga berjabat tangan dengan orang kaya dan orang fakir, mengawali salam meski kepada anak-anak, tidak meremehkan pemberian (hadiah) apabila beliau di undang, meskipun hanya beberapa potong roti. Beliau suka memberi makanan, berbudi pekerti baik, berkarakter baik, pandai bergaul, muka berseri-seri, tersenyum tanpa tertawa, berduka cita tanpa masam, rendah hati tanpa merasa hina, dermawan tanpa berlebih-lebihan, lemah lembut dan kasihan terhadap orang Islam. Tidak pernah mengulurkan tangan terhadap makanan meski sangat ingin.

Ini adalah contoh-contoh ketawadukan yang luar biasa indahnya yang telah di lakukan oleh Rasulullah SAW, para sahabat dan salafunash-sholih yang patut kita teladani dalam menghadapi masa-masa sekarang yang kata orang di sebut sebagai zaman yang sangat maju ini. Dan sikap-sikap tersebut tak akan lekang oleh terik sinar matahari dan tak akan lapuk oleh curahan hujan, hingga akhir hayat dunia. insyaAllahu ta’ala.[]***

BAHASAN IV
MELATIH DIRI UNTUK TAWADUK


Lalu bagaimana supaya diri ini menjadi pribadi yang tawaduk? Apa saja upaya-upaya melatih (riyadlatun-nafs) untuk membentuk sifat tawaduk hingga menjadi karakter yang menancap kuat dalam jiwa? Pendidikan ini sebetulnya adalah upaya pembentukan diri melalui proses pembiasaan, sebenarnya apa yang ada pada diri kita sekarang, disamping dibentuk oleh pengetahuan yang sudah kita dapatkan, juga dibentuk oleh berbagai proses pembiasaan yang telah dilakukan oleh orang tua, lembaga pendidikan dan atau diri kita sendiri untuk membentuk kepribadian yang positif dalam diri, salah satu diantaranya adalah pembentukan kepribadian yang tawaduk ini. Sedikitnya ada lima langkah yang harus kita lakukan dalam hal ini.

Pertama, Melatih diri untuk bisa menerima suatu kebenaran
.
Memang, menerima, mengikuti, mengakui bahkan mensyukuri suatu kebenaran yang datangnya dari orang lain itu tidak mudah. Hanya orang-orang yang berhati bersih saja yang dapat melakukannya. Apabila muncul suatu kebenaran dari mulut seseorang, lalu hati ini merasa berat menerimanya atau enggan untuk menghargainya, maka berarti dalam jiwa kita masih bersarang sifat sombong. Cepat obati dan bersihkan dengan cara memperingatkan diri akan bahaya-bahaya kesombongan. Adapun sifat sombong adalah sangat tidak pantas disandang oleh manusia. hanya Allah yang layak menggunakannya. Ibarat pakaian, itu pakaian Tuhan. Tak pantas disandang manusia. Kita harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, manusia selalu memiliki keterbatasan-keterbatasan. Kitapun dipenuhi dengan kekurangan-kekurangan itu.

Apabila hati tetap berat mengakui satu kebenaran, maka harus dipaksakan untuk menerimanya dengan cara, memaksa lidah supaya mau menghargai dan menyanjung bahkan mengakui serta berterima kasih kepada orang yang telah membawa kebenaran itu. Mencoba membuka diri untuk mengakui kelemahan yang ada, sehingga pada akhirnya dapat mengambil faedah dari padanya. Seperti mengucapkan: ”Alangkah bagus pemikiranmu, ide seperti ini tak pernah terlintas dalam fikiranku. Semoga semuanya dapat berjalan dengan baik, terima kasih dan semoga Allah membalasmu dengan kabaikan.”

Kedua, ketika berkumpul, melatih diri untuk mau mendahulukan orang lain. Duduk di depan-di belakang dan di bawah sama saja.

Apabila hal ini terasa berat dihati, seperti bila duduk didepan merasa bangga atau duduk dibelakang merasa hina, maka berarti masih ada benih-benih kesombongan yang akan tumbuh dengan subur dalam hati. Oleh karena itu latihlah diri kita sendiri untuk biasa melakukannya, dimanapun dan kapanpun, sehingga depan belakang, atas bawah tak ada pengaruh dalam perasaan. Dengan cara mengingatkan diri kita, bahwa yang paling mulya diantara manusia dihadapan Allah, adalah yang paling tinggi sifat takwanya, bukan orang yang selalu mendapat tempat duduk didepan. Dan hal itu Allah yang akan menentukan dikemudian hari. Boleh jadi orang yang di anggap jelata selalu disiapkan tempat duduk dibelakang, bahkan hadirnya tidak dibanggakan orang, tidak adanya tidak di cari orang, justeru orang itu yang tinggi derajat disisi Allah. Tiada yang tahu tentang hal ini kecuali Allah sendiri Yang Maha Tahu.

Seorang yang tawaduk tidak terlalu bangga ketika duduk didekat orang-orang besar, dan juga tidak merasa gengsi dan hina ketika duduk berdampingan dengan orang-orang kecil bahkan orang cacat sekalipun. Ada satu riwayat seorang kaya raya namun buta mata hatinya dan selalu bersikap sombong, orang kaya ini sowan dan duduk dimajlis Rasulullah SAW. Lalu datanglah seseorang yang sangat miskin, dalam keadaan seperti itu orang tersebut masih ditambah penderitaannya yaitu tidak bisa melihat alias buta, dia duduk disamping orang kaya yang buta mata hatinya itu. Kemudian orang kaya ini menampakkan rasa risih dan tidak senang karena berdekatan dengan orang miskin yang buta matanya. Akhirnya si kaya bergeser duduknya menjauhkan diri dari tempat duduk orang miskin dan buta itu. Melihat hal tersebut Rasulullah SAW marah kepada orang kaya yang buta mata hati itu,” Mengapa engkau bersikap seperti itu? Apakah kamu khawatir kemiskinan dia akan menular kepadamu? Atau engkau takut kekayaanmu akan menular kepadanya?” Orang kaya itu menjawab:”Saya siap memberikan setengah dari kekayaan saya kepada orang miskin ini, asalkan ada ridla darimu kepada saya ya-Rasulullah.” Rasul menoleh kepada orang miskin yang buta mata itu, dan berkata:”Apakah engkau ingin setengah dari kekayaan laki-laki ini?”

Orang miskin yang buta itu menjawab:”Tidak, saya tidak mau!” Rasulullah SAW bertanya lagi:”Mengapa?” Si miskin menjawab:”Saya takut menjadi sombong dengan kekeyaan yang saya miliki, sehingga menjadi buta mata hati ini. Apa jadinya nanti, mata dlahir saya sudah buta, masih akan ditambah lagi dengan buta mata hati seperti orang kaya itu.”

Demikian sahabat Nabi SAW menjaga dan memelihara sifat tawaduknya. Karena sering kali kekeyaan membuat sombong pemiliknya, dan kesombongan membuat buta mata hati manusia. Berantas penyakit sombong, segera latihlah diri kita untuk bersifat tawaduk.

Ketiga, menghadiri undangan orang-orang yang di anggap miskin dan jelata, atau undangan-undangan dalam acara-acara kecil di kampung.

Bila orang lain telah berkenan mengundang kita, minimal orang yang telah mengundang itu hatinya telah memiliki perhatian dan mengakui akan keberadaan kita. Selanjutnya dia memberi penghormatan kepada kita dengan cara memberi suatu undangan. Demikian sebaliknya tentunya kita harus memberi penghormatan kepada orang yang telah menghormat tersebut. Karena dalam Islam, bila ada orang yang berbuat baik kepada kita, wajib kita membalasnya dengan kebaikan, sedikitnya kebaikan yang setimpal dengan kebaikan orang lain, kalau perlu kita harus membalasnya dengan kebaikan yang lebih dari kebaikan yang kita terima. Bahkan dalam agama ada ajaran ; ahsin ila man asa’a ilaika, berbuat baiklah kamu terhadap orang yang telah berbuat jelek padamu. Yang dimaksud berbuat baik disini tentunya adalah menghadiri undangannya tepat waktu sesuai dengan harapan.

Andai kita adalah seorang tokoh, mari tabur rata kasih sayang ini pada ummat yang kaya dan yang miskin. Layani mereka semua dengan sebaik-baik pelayanan atas dasar kasih sayang, tanpa perbedaan status sosial. Bila yang mengundang orang kaya dan orang miskin dalam waktu yang bersamaan, maka buatlah skala perioritas; mana yang lebih dahulu di antara yang mengundang. Jika ternyata memang tidak sempat. Katakan tidak bisa, karena terlalu banyak undangan yang harus di hadiri misalnya, dan minta maaflah pada si pengundang. Jangan sampai beberapa undangan dalam sehari diterima semua. Lalu dipilih kira-kira mana acara yang dianggap besar, maka acara itulah yang dihadiri. Kebijakan seperti ini kurang tepat, karena barakah Allah tidak tertentu pada besar-kecilnya acara atau sepi dan ramainya tawa serta tepuk tangan orang-orang yang hadir. Akan tetapi sukses dan tidaknya sebuah acara hanya bisa diukur dengan sejauh mana acara tersebut memberikan atsar (pengaruh) positif terhadap perilaku masyarakat sehingga terjadi perubahan dan peningkatan. Buat apa acara besar karena dihadiri ribuan orang, kalau tidak ada barakah dan atsar didalamnya. Acara besar seringkali membuat hati kita menjadi sombong, karena merasa sangat terhormat diundang pada acara sebesar itu. Inilah penyakit yang sangat berbahaya. Sebaliknya acara kecil lebih menarik hati kita untuk tulus ikhlas dan menumbuhkan rasa tawaduk yang mendalam dihati. Dalam keadaan seperti itu insya Allah dibarakahi dan bermanfaat acaranya.

Merasa gengsi karena hanya diundang dalam acara kecil atau diundang orang tak berpunya adalah tanda adanya kesombongan dalam hati. Rasulullah SAW manusia paripurna, tinggi derajat didunia, tinggi derajat dihadapan Allah bersabda :”Andaikan saya di undang untuk makan kaki (kokot hewan) atau paha binatang, niscaya aku sambut dan mendatangi undangan tersebut.” (HR. Bukhari).

Keempat, membawa sendiri berbagai keperluan, baik keperluan keluarga, kerabat tetangga ataupun titipan sahabat-sahabat.

Tidak enggan menjinjing barang-barangnya dari warung atau pasar, hingga sampai dirumah, merupakan pancaran dari cahaya sifat tawaduk didalam hati.

Rasanya tidak ada yang harus dirasakan ‘malu’, karena semua ini adalah ibadah, memenuhi kebutuhan keluarga termasuk kewajiban kita. Apabila kita melakukannya dengan ikhlas hati, tentunya kita akan mendapat ridla dan pahala dari Allah.

Rasa malu membawa barang-barang keperluan sendiri atau titipan orang lain adalah bagian dari kesombongan. Abdullah bin Salam seorang ulama besar yang kaya raya. Beliau memikul sendiri kayu kayu bakarnya dari pasar. Ada seseorang menyapa beliau ketika dipasar :”Hai, Abdullah bin Salam, bukankah ada pembantu-pembantu dan anak-anakmu untuk membawanya?” Abdullah bin Salam menjawab :”Benar! akan tetapi aku mau mencoba diriku sendiri, berat-tidak perasaanku bila berperilaku yang demikian itu.”
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :

من حمل الفاكهة اوالشئ فقد برئ من الكبر
“Barang siapa membawa buah-buahan atau membawa sesuatu, maka ia terlepas dari sifat sombong.” (HR. al-Baihaqi).

Orang tawaduk tidak senang minta bantuan pada orang lain, segala pekerjaan dilakukannya sendiri dengan senang hati, hal itu dilakukan selama dia masih mampu melakukannya.

Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz menulis surat yang di sampingnya ada seorang tamu, sementara lampu hampir mati. Tamu itu bertanya :”Apakah disini tidak ada orang yang dapat memperbaiki lampu ?”
“Tidak, sebagian dari kemuliaan tidak untuk di jadikan tamu sebagai pelayan.” Jawab Umar bin Abdul Aziz.
“Apakah tidak ada budak ?” Tanya tamu lagi.
“Tidak ada. Sekarang dia sedang tidur.”
Setelah itu Umar mengambil wadah minyak dan menuangkan ke dalam lampu. Tamu tersebut hanya bisa melihatnya dengan heran. Bagaimana mungkin seorang raja melakukan perbuatan yang sepatutnya dilakukan oleh seorang pelayan.
“Mengapa hal ini tuan kerjakan sendiri, wahai amirul-mu’minin?” Tanyanya lebih lanjut.
Umar bin Abdul Aziz berkata :”Jika saya pergi, saya adalah Umar. Dan jika saya kembali, saya juga adalah Umar.”

Kelima, biasakan berpenampilan bersahaja dan sederhana baik dalam masalah kendaraan, pakaian dan pembicaraan.

Karena keengganan seseorang untuk menggunakan kendaraan murah, pakaian murah dan lain-lain, hal ini menunjukkan akan adanya kesombongan dalam diri seseorang. Oleh karena itu perlu ditekankan pada diri untuk bersikap wajar dan tidak berlebih-lebihan.

Syeikh Abu Hasan as-Syadziliy, seorang tokoh tasawwuf yang kaya raya, beliau adalah wali kuthub, pernah bercerita: Suatu saat aku keluar pergi ke sebuah kebun, bertemu dan bersama sahabat-sahabatku dari kota Tunis. Setelah aku kembali pulang bersama sahabat-sahabat, kami bersama menunggang himar. Ketika hampir masuk ke kota kami, sahabat-sahabatku pada turun dari tunggangan dan mereka berkata:”Sayyid Abu Hasan kita turun sampai disini dari himar ini.”Segera aku bertanya:”Kenapa?” Lalu mereka berkata:”Ini adalah kota besar, kita malu bila hanya menunggang himar seperti ini.”Hampir saja kakiku tergoda mengikuti kemauan mereka, tiba-tiba ada suara memanggilku:”Ya-Aba Hasan! Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa pada sebuah perjalanan yang dibarengi dengan sifat tawaduk, akan tetapi Allah akan menyiksa pada sebuah perjalanan yang disitu disertai dengan kesombongan.” Lalu aku mengurungkan niatku untuk turun dari kendaraan himarku. (al-Mafakhirul ‘Aliyah hal:77, lis-syeikh Ahmad bin Muhammad bin ‘Iyad as-Syadziliy).

Bukannya tidak boleh berkendaraan mahal, berpakaian bagus dan indah, penekanan diri disini hanya untuk melatih dan membiasakan diri menuju sikap tawaduk yang dicitakan, sehingga kendaraan mewah dan pakaian mahal tidak membuat riya’ dan sombong, tapi semata-mata untuk mensyukuri nikmat Allah yang diberikan, serta agar sedap dipandang orang sekitar dan ini termasuk memberi kebahagiaan dihati sesama muslim (idkhalussurur). Apabila tujuan kita seperti ini, insya Allahuta’ala berpahala.

Begitu sebaliknya, tidak merasa hina dina hanya karena berpakaian yang murahan, karena sesungguhnya tujuan berpakaian adalah menutup aurat dan suci, layak digunakan untuk beribadah.

Bagi orang yang tawaduk; tidak akan riya’ dengan pakaian bagusnya dan tidak akan merasa hina karena pakaian murahnya. Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya saya ini adalah hamba yang makan ditanah, memakai pakaian bulu, mengikat unta, menjilat jari-jari tanganku (sesudah makan) dan memenuhi undangan hamba sahaya. Barang siapa yang benci dengan sunnahku, maka ia tidak termasuk dalam golonganku.” []***

KHATIMAH
PENYEBAB HILANGNYA TAWADUK



Ada tiga hal yang membuat manusia hilang ke-tawaduk-annya, yaitu kekayaan, kedudukan dan ilmu pengetahuan. Seringkali orang-orang menjadi sombong karena merasa dirinya lebih berada dari orang lain. Hal ini terjadi karena kebodohan orang tersebut terhadap hakekat harta yang digenggamnya. Orang bodoh yang berharta banyak sekali menyebabkan seseorang menjadi bakhil, egois dan sombong.

Kedudukan juga bisa menyebabkan hilangnya sifat tawaduk seseorang. Yang dimaksud dengan kedudukan disini adalah kemasyhuran, jabatan dalam pemerintahan dan kedudukan sosial, seperti menjadi orang terpandang dimasyarakat atau sebagai putera orang terpandang. Akibat bangga dengan keturunan ini juga tidak sedikit membuat manusia lupa dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Bahkan kadang-kadang gara-gara keturunan, banyak diantara mereka yang menolak untuk menikah dengan keluarga tertentu, karena memandang dirinya lebih mulia dari keluarga tersebut. Padahal sebenarnya orang yang menganggap dirinya berkedudukan itu telah teripu dengan perasaan sendiri. Dari manakah dia merasa lebih mulia? Padahal kadang-kadang yang keturunan orang biasa itu ibadahnya melebihi dia, ilmunya melebihi dia dan akhlaknya jauh diatas dia. Dari sisi manakah dia merasa mulia? Tidak ada lain kecuali dari perasaan sendiri yang telah jelas-jelas menipunya. Didalam al-Qur’an Allah menegaskan, siapa yang paling mulia diantara kita dalam pandangan Allah.

ا ن اكرمكم عند الله اتقا كم
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. (al-Hujurat:13)

Rasulullah Saw telah menumpahkan kemarahannya kepada orang-orang yang menyombongkan diri lantaran ayah dan nenek moyangnya, dengan ungkapan yang cukup tajam dan menggetarkan hati. Beliau mengatakan :
“Hendaklah orang-orang yang menyombongkan ayah-ayahnya yang sudah mati itu mau berhenti. Mereka yang demikian itu hanyalah bara neraka. Atau mereka itu lebih rendah dihadapan Allah dari pada kumbang yang mengguling-gulingkan tahi dengan hidungnya, Allah telah menghapus kesombongan jahiliyah dan kecongkakannya lantaran ayah. Seseorang ada yang beriman dan bertakwa, dan ada juga yang durhaka dan celaka, manusia seluruhnya anak cucu Adam dibuat dari tanah.” (HR. Abu Daud, Yirmidzi dan Baihaqi dengan sanad hasan).

Hadits ini merupakan satu peringatan kepada orang-orang yang menganggap besar lantaran nenek moyangnya dulu adalah keturunan raja-raja dan kaisar. Mereka yang demikian itu hanyalah bara neraka jahannam, seperti penegasan Rasulullah Saw di atas.

Kedudukan yang didapat sebelum waktunya, lebih berbahaya lagi terhadap ke-tawaduk-an seseorang. Ibarat buah, masak sebelum waktunya adalah penyebab utama kemalasan. Dia akan merasa; untuk apa sekolah, begini saja orang sudah menghormati. Orangnya biasanya cenderung sulit untuk mengikuti aturan-aturan sekolah, karena guru-gurunya pun enggan memberi sanksi. Sehingga sekolah asal-asalan, suka-suka saja apa mau dia. Kedudukan sebelum waktunya bisa juga menyebabkan gengsi disekolah, ketika diluar sekolah dihormati orang. Tetapi didalam kelas ketinggalan karena sekolahnya asal-asalan. Oleh karena itu Umar ibn Khattab mengatakan:”tafaqqahu qabla an-tusayyadu!” Belajarlah dahulu sebelum kita dituankan. Maksudnya kita harus belajar sebagaimana biasa sebelum mendapat kedudukan dimasyarakat.

Yang terakhir yang menyebabkan hilangnya sifat tawaduk adalah ilmu. Seseorang yang telah berhasil mendapatkan ilmu pengetahuan cenderung merasa bahwa ilmu-ilmu itu merupakan sesuatu yang agung dan telah menetap dalam dirinya, sehingga kadang tergelincir memandang orang lain lebih rendah.

Jika hal ini terjadi pada penuntut ilmu agama, maka keadaannya lebih berbahaya dari penuntut ilmu lainnya. Karena biasanya penuntut ilmu non agama pengaruhnya hanya sebatas pada urusan materi atau kekayaan. Adapun orang yang menguasai ilmu agama, dia akan mendapatkan materi kekayaan, plus kedudukan ditengah-tengah masyarakat. Sedangkan kedudukan dimasyarakat identik dengan berkuasa pada hati-hati manusia. Kalau hati orang lain telah dikuasai apa yang dia katakan pasti di-iya-kan orang. Dan demikianlah seterusnya, akan banyak kesempatan yang terbuka lebar sebagai hak istimewa baginya. Bila tidak cepat disadari, maka orang tersebut akan senantiasa asyik dengan kesombongan yang tidak dirasa. Kalau penyakit sudah tidak dirasa sakit, mana mungkin hal itu akan sembuh.

Kesombongan yang terjadi pada orang berilmu, sesungguhnya yang terjadi adalah, pengetahuan yang dia miliki tidak menambah cahaya iman (nurul musyahadah) dalam hatinya. Kalau begitu lalu apa bedanya antara yang berilmu dengan orang bodoh. Bahkan orang yang awam dengan keawamannya, dia merasa tidak tahu merasa perlu tuntunan lalu dia tawaduk pada orang lain, itu lebih baik dari orang yang berilmu, yang ilmunya tidak memberi apapun padanya kecuali kesombongan dan ketertipuan.

Akhirnya harapan kita adalah semoga ilmu yang kita kuasai membawa nurul musyahadah dalam hati, lalu ilmu ini menambah keimanan dan ketakwaan, sehingga semakin bertambah ilmu, semakin tawaduklah kita. Amin ya-Robbal alamin ! []***
Wallahu a’lam bi haqiqatil amri




















Senin, 01 Juni 2009

metode pendidikan Rasulullah thd. para Shahabat

Rasulullah berbicara kepada orang lain sesuai dengan kadar intelektual mereka. Suatu pembicaraan yang tidak dapat dipersepsi oleh akar pendengar, terkadang justru menjadikan fitnah. Sehingga yang terjadi tidaklah seperti yang dikehendaki . Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam benar-benar berbicara kepada mereka yang hadir dengan bahasa yang dapat mereka tangkap pengertiannya. Sehingga seorang arab pedalaman dengan kekerasan karakternya mampu memahami. Demikian juga dengan lingkungan arab kota lebih dapat memahaminya. Disamping itu juga beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memperhatikan daya tangkap, kecerdasan dan kemapuan alami maupun hasil latihan mereka dalam berpikir. Kepada orang yang cerdas beliau cukup memberikan isyarat. Misalnya adalah riwayat berikut
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “ada seseorang warga Fazarah menghadap ke Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Sesungguhnya istriku melahirkan anak yang berkulit hitam, dan aku tidak mengakuinya. ” Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, Apakah kamu mempunyai unta, Ia menjawab, Ya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa warna Kulitnya?, Ia menjawab, Kemerahan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “apakah diantara unta itu ada yang berwarna ke-abu-abuan ? Ia menjawab, “ada”. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, : “Bagaimana bisa begitu?”, Ia menjawab, “Mungkin dipengaruhi oleh factor keturunan”. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, :”Nah, anakmu itu juga dipengaruhi oleh keturunan (gen)[1]
Satu-satunya sarana untuk mendudukan orang itu agar mengakui anak yang di-ingkarinya adalah menganalogikan dengan peristiwa yang sering terjadi dilingkungannya, baik berkenaan dengan kehidupan sehari-hari maupun kondisi lingkungan.
Disamping ditujukan kepada akal, pembicaraan beliau jua ditujukan kepada rasa dan nurani. Pembicaraan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mampu mengerakan perasaaan dan bahkan menggetarkannya. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dapat menangani berbagai macam persoalan dengan bijak dan hati-hati.
Sebagai contoh riwayat berikut:
Dari Abu Umamah Al Bahily, bahwa ada pemuda Quraiys menghadap kepada Rasulullah, lalu berkata : Wahai Rasulullah, bolehkan aku berbuat zina?, kemudian para sahabat berdatangan untuk mencegahny, namun beliau bersabda, :Biarkan saja, Dan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mendekatlah”, Pemuda itu mendekat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalau beliau bertanya, ” Apakah engkau senang bila hal ini terjadi kepada Ibumu?, Ia menjawab, Tidak demi Allah, rasulullah bersabda: semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda, “Orang-orang juga tidak senang bila hal itu terjadi kepada Ibu mereka. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya : apakah engkau senang bila hal ini terjadi kepada putrimu?, Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, kemudian Nabi bersabda: “Semoga Allah menjadikanku tebusanmu. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Orang-orang juga tidak senang bila hal ini terjadi kepada putrid mereka….begitulah seterusnya hingga pertanyaan kepada saudarinya, bibnya baik pihak ayah dan pihak ibunya. Setiap pertanyaan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dijawab oleh pemuda Quraiys itu “Tidak, Demi Allah”. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam meletakan tangan beliau ke dadanya, seraya berdo’a :” Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya dan peliharalah kemaluannya.”[2]
Memudahkan dan Tidak Memberatkan
Untuk meyebarkan dan menyampaikan islam, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menempuh jalan tegas, tetapi memilih yang termudah dan terlonggar dalam mengajarkan hukum-hukum agama kepada para sahabatnya.
Berikut adalah dalil-dalil dari as Sunnah
Mengajarlah kalian. Permudahlah dan jangan mempersulit. Dan bila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah diam.[3]
Permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari. [4]
Karena semua inilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan para sahabat untuk mendalami persoalan-persoalan agama mereka, memerintahkan kepada mereka untuk menanyakan apa saja yang tidak mereka ketahui serta melarang mereka memberikan fatwa tanpa ilmu.
Salah satu contoh sifat toleran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, ia berkata: seorang arab badui/pedalaman masuk masjid, kemudian shalat dua raka’at, lalu ia berdo’a: “Ya Allah, rahmatillah aku dan Muhammad dan jangan engkau rahmati bersama kami seorangpun. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menoleh dan berkata “Kamu hendak menutup sesuatu yang lapang”. Selang beberapa lama, orang itu kencing didalam Masjid, orang-orang lalu menghampirinya (untuk mencegah). Namun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka “Sesungguhnya kalian diutus sebagai orang-orang yang memberikan kemudahan dan tidak diutus sebagai orang-orang yang meyulitkan. Siramkan se-ember air pada bekas kencingnya itu”.[5]
Itulah sifat Rasulullah yang selalu lembut dalam menghadapi segala masalah pada masanya, beliau tidak menghujat ataupun mencaci hal-hal yang sifatnya sepele .
Sunnguh telah ada Suri tauladan yang baik dalam diri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Pengajaran Kepada kaum Wanita
Di samaping pengajaran kepada kaum pria, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pengajaran kepada kaum wanita. Suatu ketika beberapa orang wanita dating kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak dapat mengikuti majlismu yang terdiri dari kaum pria, karena itu kami menjanjikan satu hari yang kami gunakan untuk datang kepadamu” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tempat yang aku janjikan unutk kalian adalah di rumah fulan. Pada hari yang ditentukan dan ditempat yang dijanjikan itu beliau hadir dan memberikan pengajaan kepada mereka.[6]
Didalam pengajaran Rasulullah itulah para wanita melontarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai hokum yang berkaitan dengan wanita dan Rasulullah memberikan fatwa kepada mereka. Dari ‘Aisyah, ia berkata : Wanita terbaik adalah wanita anshar, mereka tidak terhalang dari rasa malu untuk mendalami agama.[7]
Demikianlah sedikit ringkasan tentang bagaimana metode pengajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, semoga bisa dijadikan pelajaran yang berharga.
[Diringkas dari Kitab : Ushul Al Hadist li Dr. Muhammad ‘Ajjaj Al Khattib, Darul Fiqr, Beirut Libanon]
Artikel yang berkaitan
Metode Pengajaran Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasallam kepada para Sahabat
Metode Pengajaran Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasallam kepada para Sahabat [2]
Footnote:
[1] Lih : Sahih Muslim, hal 1137 dari dua Hadits, hadits 18 dan 20, Juz II
[2] Lih : Majma Az Zawa’id hal 129, Juz I
[3] Lih : Musnad Imam Ahmad, hal 12, hadist 2136 dan hal 191 hadist 2556 Juz II
[4] Sahih Bukhori bi Hasiyah as sandy, hal 24 Juz I
[5] Bagian kedua dari hadist tersebut yakni peritiwa kencingnya seoran arab badui, disebutkan oleh Al Bukhari dari Ans dan Abu Hurairah, Lih; Fathul Bariy hal 335 dan 336 Juz I, sedang kisah do’anya itu ditempat lain dan ditakhrij oleh Imam Ahmad dengan sanad sahih pada hal 244, hadist 7254 Juz XII dan hal 209 hadist 7786, Juz I
[6] Musnad Ahmad, hal 85 hadist 7351, Juz XIII dan Fathul Bariy hal 206, Juz I
[7] Lih : Fathul Bariy, hal 239, Juz I
Agustus 20, 2008 - Ditulis oleh adanipermana Ilmu-ilmu Hadits , 3 Komentar
3